Senin, 24 Juni 2013

Malam Muda Mudi

Malam Muda-Mudi, begitu namanya. Konon ini tradisi semenjak jaman Belanda berkuasa di Hindia (nama Indonesia dulu). Dulu setiap merayakan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, seluruh rakyat ikut merayakan dengan turun ke jalan-jalan. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh gubernur Jakarta Ali Sadikin walau sempat hilang selama beberapa puluh tahun. Tapi kini di jaman Jakarta Baru tradisi itu dihidupkan kembali dan saya bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan menjadi saksi kemeriahannya.



Padahal pada malam perayaan ulang tahun Jakarta yang ke 486 itu kemeriahan dipecah di beberapa lokasi, seperti di Ancol, di Cakung dan di Situ Babakan, tapi tetap manusia tumpah ruah di sepanjang jalan MH Tamrin, entah bagaimana situasinya kalau keramaian dipusatkan di satu tempat di Silang Monas. Saya yang datang pukul tujuh malam sudah mendapati Bundaran HI seperti yang ada di gambar. Manusia sudah bikin kapling masing-masing dan pedagang sudah pada kelelahan. 

Dan pedagang pada malam itu benar-benar panen. Air mineral botol sedang yang biasa dijual dua ribu rupiah malam itu dihargai empat ribu sampai lima ribu rupiah. Dan pada pukul sembilan malam saya lihat banyak yang sudah mendorong gerobaknya menuju pulang.
Saya bersama istri malam itu hanya mondar-mandir Bundaran HI sampai Sarinah melihat panggung hiburan yang menampilkan musik dan pembawa acara yang lucu-lucu khas Betawi. Ada musik blues, dangdut, dan entah apa namanya. Yang jelas saya hanya nunggu Jokowi diarak. Rencananya malam itu ada arak-arakan tumpeng dan gubernur berada di salah satu tumpeng raksasa. Sayang arak-arakan gagal dan gubernur dengan wakilnya hanya jalan kaki dari Monas ke Bundaran HI.

Semoga tradisi ini bisa terus hidup ke depan, tentu harus dengan perbaikan-perbaikan mengingat kesemerawutan di malam kemarin itu serasa banyak yang kurang. Selamat untuk gubernur baru yang penuh gairah, kepada para aparatnya semoga kedepan bisa mengikuti sepak terjang sang boss dan warganya juga patuh pada aturan. Hidup Jakarta.

8 komentar:

Claude C Kenni mengatakan...

Semoga ke depannya Indonesia bisa tambah aman, tambah banyak public space, sehingga penduduknya bisa jalan kaki ke luar dan berelasi dengan satu sama lain. One step closer to achieving a harmonious life =)

sabda awal mengatakan...

wah asiknya yang jadi orang jakarta ya, di Medan nggak ada acara Medan Fair, belum ada yang seperti itu sepertinya

Muhammad A Vip mengatakan...

Claude:harapan yang harus diaminkan ini. sip bro
sabda:wah, harus diadain itu

alkatro mengatakan...

alhamdulillah, ane belum pernah ke jakarta blabar pisan
liat pasar malem di alun-alun kabupaten saja udah puyeng mas :D

ronal mengatakan...

saya pribadi salut dengan apa yg dilakukan Jokowi pd ulang tahun JKT kemarin mas..kapan lagi penduduk JKT bisa melenggang bebas dengan berjalan kaki sepuasnya tanpa asap dan macet...dua jempol daaah

all about indonesia mengatakan...

semoga propinsi DKI jakarta lebih baik di bawah pimpinan jokowi dan ahok, kita doakan dan support bersama-sama

r10 mengatakan...

kalau pesta, pasar malam, harga dinaikin pedagang

blm tahu mereka, aku milih menahan haus daripada beli aqua 5000 :D

Dihas Enrico mengatakan...

konsepnya harus dipertajam dimana penimatnya bisa enjoy krn Jakarta udah terkenal padat...
:)