Senin, 16 September 2013

Museum Nasional; Anda Pernah Berkunjung?

Museum Nasional. Atau dikenal juga dengan sebutan Museum Gajah, adalah salah satu museum yang menurut saya layak kunjung. Karena dari sekian banyak museum di Indonesia, museum satu ini sangat megah gedungnya dan isinya sangat menarik. Tempatnya mudah dijangkau karena berada di pusat kota, yaitu di sisi barat Monumen Nasional atau Monas. Asri suasananya karena kawasan sekitarnya ditumbuhi pepohonan rindang, dan di sana sering diadakan acara-acara menarik yang memungkinkan kita bisa masuk ke museum tanpa membayar.

Entah sudah berapa kali saya keluar masuk Museum Gajah ini, dan seperti orang pergi berhaji, selalu kangen ingin datang lagi. Biasanya saya datang kalau ada pameran yang temporer, karena saat ada pameran tak tentu ini kita bisa masuk gratis. Di sini juga sering ada acara, seperti: diskusi, peluncuran buku, seni pertunjukan, dan lain-lain. Tiket masuknya murah, cuma Rp. 5000,- dan kalau datang rombongan bisa lebih murah.

Dan kini saya sedang benar-benar ingin datang ke sana karena ada berita museum pertama di Indonesia itu baru saja kecolongan. Menurut berita tiga benda peninggalan Kerajaan Mataram Kuno raib digondol maling. Entah siapa malingnya, yang jelas museum ini sering kemalingan. Terhitung sudah lima kali semenjak peristiwa pertama pada tahun enam puluhan yang mempopulerkan nama Kusni Kasdut.

Saya ingin datang kesana kini sekedar ingin memastikan kebenaran dari apa yang pernah saya rasa saat datang ke sana dulu. Museum yang cenderung sepi pasti mengundang hasrat berbuat jail, dan saat saya keluar masuk ruangan yang sepi itu pun sempat merasakan suasana mudahnya mengambil benda koleksi yang ada. Saya kira menyadari adanya kamera pengawas atau CCTV yang membuat pengunjung tidak berlaku nakal, karena satpam atau penjaga hanya ada di sekitar pintu masuk seingat saya. 

Bahkan di lantai atas ada anak remaja berlarian kejar-kejaran pun yang membuat saya cemas--saat saya berkunjung--kalau-kalau jatuh atau menubruk kaca wadah benda koleksi, bisa berlangsung tanpa ada yang menegur karena memang tak ada penjaganya. Jadi kalau ada yang tahu kondisi CCTV rusak pasti akan mudah melakukan pencurian, dan pencurian kali ini konon karena CCTV mati sudah lima bulan.

Keluar masuk gedung museum pun setahu saya bisa dari banyak pintu. Kalau sedang ada pembukaan pameran atau ada acara orang bisa keluar masuk dari area parkir di basement tanpa pemeriksaan pula, padahal pengunjung bisa masuk membawa tas. Jadi menurut saya dengan mengetahui CCTV mati dan sistem alarm tidak berfungsi pencurian bukan sesuatu yang sulit di gedung dengan ruangan yang sangat luas dan penjagaan yang minim itu.

Bagi anda yang belum pernah datang ke Museum Gajah, cobalah datang dan bayangkanlah diri anda sebagai semacam Kusni Kasdut, datang pada saat ada acara yang memungkinkan siapa saja bisa masuk dari pintu manapun tanpa membayar, dan rasakan sensasinya. Saya pernah merasakan suasana ganjil itu.

5 komentar:

Yudi Darmawan mengatakan...

seumur hidup cuma dua kali masuk museum, dan kedua-duanya di Banda Aceh, satu museum daerah, satu lagi museum tsunami, jauh lebih mewah kelihatnnya museum2 yang ada di foto mas nya..

Muhammad Affip mengatakan...

Yudi: ya, ini museum besar yg menyimpan banyak koleksi peninggalan jaman purbakala, megah sayang pengelolaannya asal-asalan

duniaely mengatakan...

aku dan suami penggemar Museum mas, kl berlibur ke satu daerah pasti dicari museumnya, tapi belum pernah ke Museum nasional, thanks infonya, jadi pengen ke sana juga Insya Allah nanti kalau berlibur ke tanah air lagi :)

zachflazz mengatakan...

sudah. cukup jelek untuk ukuran museum bertaraf nasional.

Muhammad Affip mengatakan...

Mbak Ely:kalo diluar konon museum bener-bener dirawat dan dikunjungi, di sini payah.
Zach:bukan nasional, internasional lho