Selasa, 01 Oktober 2013

Tentang Pancasila Sakti

Hari ini, 1 Oktober adalah Hari Kesaktian Pancasila. Ya, Pancasila dianggap sakti karena tetap ada padahal dulu pada tahun 1965 konon ada yang berupaya menyingkirkannya. Entah benar atau tidak Pancasila sakti, yang pasti Pancasila masih jadi dasar negara. 


Walau tidak gegap-gempita peringatannya, yang pasti para pegawai negeri hari ini berupacara bendera. Anak-anak sekolah sudah pasti upacara bendera juga, para siswa bagaimanapun caranya selalu diupayakan bangga memiliki Pancasila. Dan saya yang sudah lama tak upacara bendera sudah lupa bagaimana rasanya memperingati hari bersejarah ini, yang pasti sekarang saya masih bingung kenapa Pancasila dianggap sakti.

Selain upacara bendera yang diadakan oleh negara, mereka yang merasa jadi korban kesaktian Pancasila pun kini memperingatinya juga. Mereka yang pada pasca peristiwa G 30 S ditangkapi karena dituduh sebagai PKI yang anti Pancasila (PKI anti Tuhan sedang Pancasila ber-Tuhan) lewat gambar tangan bercerita tentang masa lalu mengajak generasi sekarang melihat kenyataan yang pernah terjadi. 

Pameran ini saya yakin tidak dimaksudkan untuk menunjukkan saktinya Pancasila, dari gambar yang ada justru seperti sedang mempertontonkan kekejaman orang-orang yang Ber-Pancasila. Para tentara yang pastinya dulu sebagai pembela Pancasila digambarkan dalam pameran ini sangat biadab, jadi pastinya ini keritik yang menarik. Apalagi Pancasila yang oleh banyak pihak diagung-agungkan kini seperti tidak nggenah posisinya dimana.

Pameran ini berlangsung di Goethe Institut Jakarta sejak akhir pekan kemarin, dan akan berlangsung sepekan. Tak cuma pameran, diselenggarakan juga peluncuran buku, pembacaan puisi, seminar dan pemutaran film di tempat yang sama. bagi yang tertarik sejarah bangsa Indonesia bisa datang dan bertemu dengan mereka yang dulu pernah dibuang ke Pulau Buru.

Mereka yang merasa jadi korban pasca peristiwa 1965 kini sepertinya sedang gencar bercerita tentang kejamnya mereka yang ber-Pancasila. Sepekan lalu di Bentara Budaya juga diputar film-film dokumenter tentang hal yang sama. Bagus tentunya sebagai pengetahuan, cuma sayang film-film tandingan tidak ada yang memutarnya agar generasi muda bisa berdialektika. Mestinya mereka yang sampai sekarang masih memusuhi PKI mengadakan pemutaran film G 30 S PKI dan mengadakan diskusi tandingan. 

Dan bagi saya semakin banyak acara semacam ini diselenggarakan semakin bagus efeknya bagi perut saya, karena biasanya ada acara makan-makannya dan perut saya dipastikan subur makmur gemah ripah loh jinawi. Sudah ah!







12 komentar:

tomo mengatakan...

benar2 sakti Pancasila ini

Muroi El-Barezy mengatakan...

Yang terpenting bagaimana kita mengamalkan nilai2 luhurnya ya mas dari Pancasila itu, banyak cara orang memperingatinya...tadi saya lewat dijalan ada yang demo, ga tahu nuntut apa, tapi kelatannya bawa2 spanduk tentang pancasila

duniaely mengatakan...

sayang tempatnya jauh ya mas, kebayang andai bisa hadir langsung menyaksikan pameran itu

Intan Sudibjo mengatakan...

tapi sangat prihatin sekarang, norma pancasila semakin hari semakin merosot, dan ini menjadi pr besar bagi pemimpin yang akan datang

Rian Ra-kun mengatakan...

kesaktian panca sila terletak pada orang yang berkepentingan membuatnya dan melanggengkannya. kali aja sih gitu.

Obat Sakit mengatakan...

selamat memperingati hari kesaktian Pancasila, semoga pembantaian Gesrpu, gestok takkan terulang lagi meski dengan menggunakan nama lain

catatan kecilku mengatakan...

Kalau aku untung saja sejak beberapa tahun ini utk memperingati G30S PKI tak lagi ditayangkan film itu...

Muhammad Affip mengatakan...

Tomo: sakti mandraguna ?
Muroi: ya, saya kira penggunaan kata sakti pada Pancasila agar kita mau mengamalkannya.
Mbak Ely: tapi dekat bagi saya lho

Muhammad Affip mengatakan...

Intan: itu keprihatinan kita bersama, betapa kita senang mengagungkan sesuatu tapi abai pada pengamalan nilainya
Rian: sakti kata orde baru tidak di masa reformasi. hihi
Ifan: kemarin upacara kan?

Rawins mengatakan...

emang pki itu anti tuhan, om..?
pki bukannya asas politik, bukan tentang keyakinan..?
muso saja seorang muslim anak kyai besar...

Obat Sakit mengatakan...

gambarny bagus bang, serba klasik

Muhammad Affip mengatakan...

Rawins:PKI itu Partai Komunis, dan sudah jadi pemahaman umum bahwa komunis itu menilak ide tentang Tuhan. di sini yang saya katakan berdasar apa yang saya tangkap dari kenyataan sehari-hari. bahwa ada orang PKI yang beragama itu soal lain, sebagaimana ada orang mengaku dan dianggap beragama tapi dalam sikapnya ternyata bertolak belakang dengan nilai-nilai agamanya. soal Muso anak kiai, anak nabi Nuh saja Kanan mblatang je kang.
Obat Sakit:ya begitulah