Minggu, 16 November 2014

Sosok Ahok yang Menohok

Tak cuma di media sosial Ahok atawa Basuki Tjahya Purnama Plt. Gubernur DKI banyak diributkan, ternyata di kampung saya yang jauhnya lebih dari 300 kilometer dari Jakarta pun warganya tak ketinggalan dalam hal berdebat soal posisi orang hebat satu ini. Ahok tentu saja bagi saya hebat wasaibat. Bagaimana tidak, selama ini saya hidup di tengah orang-orang yang lebih memilih hidup aman dan nyaman—bertampang manis tapi suka mengumpat—tiba-tiba disuguhi sosok pendobrak yang tak cuma main gretak sudah tentu memunculkan harapan tentang adanya perbaikan di masa depan.


Tentu sosok bersuara nyaring yang kritis pada kemapanan yang menjengkelkan ini dan ingin mengubah kebiasaan lewat kekuasaan tidak cuma Ahok, sebelumnya ada nama-nama top seperti Sri Bintang Pamungkas dan...siapa lagi ya? Namun yang jelas Ahok istimewa karena dia Ahok: beretnik Cina dan agamanya bukan dari agama mayoritas warga tapi berani membabat ke kanan ke kiri tanpa takut dimusuhi juga tak takut mati. Kalau beliau bermental orang kebanyakan, saya yakin tak mungkin berani sampai mengeluarkan jurus ngamuk di tengah kerumunan manusia yang doyan maen kroyokan dan maen belakang.

Saya sendiri kenal Ahok baru kemarin sore, yaitu waktu beliau dipanggil Prabowo dan diminta mendampingi Jokowi di Pemilihan Gubernur DKI. Saya pikir siapa manusia ini, ternyata Ahok ini manusia yang sering diceritakan seorang teman yang mengagumi prestasinya saat menjabat bupati  di Belitung Timur. Sering teman saya ini bercerita tentang kebaikan-kebaikannya pada rakyat bawah, tapi sering pula saya mengabaikan karena saya sudah kadung menganggap pejabat negri ini sebelas duabelas. Saya baru benar-benar mau tahu ketika pada suatu acara diskusi melihat langsung sosok dan gaya bicaranya, terlebih isi omongan-nya tidak seperti umumnya politisi atau pejabat kita.

Maka ketika jadi Wagub—awalnya saya tidak yakin bisa menang—mata dan telinga saya benar-benar disetel khusus demi memenuhi rasa penasaran tentang sepak terjangnya. Dan sejauh ini saya selalu kagum dan bersama kegagahannya mulai berupaya memupuk harapan tentang masa depan yang ceria di negri peninggalan Nabi Nuh as ini dengan berdoa semoga saya dan lebih banyak lagi orang dibukakan mata hatinya agar bisa mengenali yang mana tai yang mana emas. Saya merasa bangsa ini selama ini lebih senang mengumpulkan tai dan membuang-buang emas.

Kini setelah melewati banyak aral melintang selangkah lagi Ahok akan resmi menjabat Gubernur DKI. Yang menentang tentu saja masih banyak, sebanyak koruptor ditambah pejabat busuk dan para penyembah fulus. Tapi yang mendukung pun tak kalah banyak termasuk saya di dalamnya (insyaallah). Semoga setelah Jokowi menjadi orang nomor satu di negri ini, Jakarta pun tetap punya pemimpin hebat yang menginspirasi, dada orang-orang yang hampir putus asa bisa kembali dipenuhi oleh asa dan cinta.


Bagaimanapun Indonesia belum berumur seratus tahun, daripada bubar jalan saya pikir akan lebih baik meraih kejayaan terlebih dulu dan semoga kini momentumnya. Mari kita songsong Jakarta Baru, Indonesia Baru dan Dunia Baru. Siapa mau?

4 komentar:

zach flazz mengatakan...

saya pun mendukung sepenuhnya siapapun yang melawan korupsi

Popi mengatakan...

saya juga dukung Pak! Sayang kalo Ahok dilewatkan begitu saja..

Muhammad Affip mengatakan...

zach: ayo lawan korupsi yang mungkin ada dalam diri
Popi: Ahok harus jalan terus

agen wsc mengatakan...

lihat dalam masa satu tahun baik ga