Minggu, 19 Maret 2017

WhatsApp Bro? We A!

Siapa tak kenal aplikasi WhatsApp sekarang ini? Tentu saja masih banyak orang tak tahu apa itu WhatsApp, tapi pengguna smartphone saya yakin tak asing dengan aplikasi berlogo warna hijau bulat berekor dengan gambar telephon ditengahnya itu. Bahkan saya kira sekarang lebih banyak orang yang akrab dengan aplikasi  pesan instan ini daripada aplikasi lain seperti BBM (BlackBerry Messenger), Line atau Facebook Messenger. Ya, telinga saya belakangan lebih sering mendengar istilah We A daripada Bebeem. Orang-orang ngobrol politik, agama, dan lain-lain rujukannya We A. di mana-mana orang bilang: kirim dong ke We A!



Ya, kalau dulu orang bagi-bagi gambar dan video lewat bluetooth kini asal punya kuota data internet dari jauh anak-anak kecil bisa saling berbagi gambar dan video cabul.  Entah apakah para orang tua juga sama seperti anaknya, yang pasti orang-orang tua sekarang sedang gemar berbagi HOAX. Pada pilkada yang baru lalu saya jadi pengawas dan kami para pengawas punya grup di We A, karena lewat grup ini kami berkirim data laporan. Rupanya tak cuma informasi soal kegiatan, segala macam dibagikan di sana, benar-benar ada semangat lebih pada hal berbagi sepertinya  di era tekhnologi informasi sekarang ini. Terima bagi terima bagi, mungkin ini semboyannya.

Semangat berbagi tentu saja bagus, tapi kalau kemudian  mereka yang dapat bagian merasa terganggu bisa jadi masalah juga. Seorang teman yang hape-nya biasa jadi mainan anaknya ketika grup di We A-nya berisi gambar dan video yang sedikit saru mengaku kerepotan karena harus sering mengecek dan menghapusnya. Ada juga keperihatinan, seperti ada seorang teman yang rutin membagikan tulisan-tulisan berisi petuah agama pernah pada suatu ketika setelah membagikan sebuah tulisan ada yang bertanya siapa dan dari mana ulama yang nasehatnya dibagikan itu, ternyata  dijawab asal-asalan.  

Belakangan ketika HOAX telah jadi momok mengerikan, saya melihat merakyatnya We A bisa jadi tantangan berat dalam hal memerangi penyebaran informasi-informasi menyesatkan.  Sekarang anak-anak apalagi orang tua sudah tak bisa pisah dari smartphone yang harganya makin murah.  Dan WhatsApp tak seperti BBM atau facebook karena basis koneksinya nomor telepon. Dan yang membuat We A disukai, dalam kondisi sinyal lemah pun pesan mudah terkirim.


Sampai di sini, kamu penya We A? 

2 komentar:

Asep Haryono mengatakan...

Wawwww WassAp ya. Ihiehiheiheie. Saya senang dengan fasilitas yang ada di WA karena hampir semua teman teman saya lebih suka memilih WA daripada BBM karena lebih cepat. Untuk dipake telp via WA juga keren, walau agak lambat suara merambat ya. Hiheihiehe. Salam dari Blogger Pontianak

Muhammad Affip mengatakan...

Pak ASep: tuh kan bener, We A memang merakyat haha