Minggu, 02 April 2017

Awas, Ada Ular di Rumah Kita

Berita tentang ular piton makan orang di Sulawesi mengingatkan saya pada kira-kira sepuluh tahun lalu saat tinggal di Depok, waktu itu di sebuah rumah kos, di plafon sebuah kamar bersarang seekor ular piton sepanjang tiga meter. Saya yang tinggal tak jauh dari TKP jadi sering mencermati suara-suara yang sering muncul dari atas kamar tidur, apalagi saya tinggal tepat di pinggir kali. Dan tak lama setelah itu, saat itu ada banjir, --di depan rumah yang berupa halaman luas— warga menangkap ular yang lumayan juga besarnya.  Kini, seperti tak mau kalah di sekitar rumah sedang heboh ada ular sebesar paha orang dewasa menyebrang jalan.


Saya sendiri tidak yakin dengan berita di sekitar rumah. Ular sebesar paha orang dewasa di sebuah perkampungan yang padat pasti mudah ditemui keberadaannya. Lalu ular bisa sampai sebesar itu selama ini makanannya apa? Tak pernah ada heboh orang kehilangan ayam, tikus wirog pun sejauh ini merdeka lalu-lalang.  Hidup di negeri HOAX kalau tidak melihat langsung, saya pilih lebih baik tidak gampang  percaya.

Kalau ular kecil memang masih ada. Di pekarangan belakang rumah beberapa kali saya menemui ular. Pernah ketika sedang bersih-bersih, di bawah tumpukan genteng melngkar seekor ular bergaris-garis kuning seperti cincin sebesar ibu jari. Ada juga ular lebih besar lagi, sepertinya Ular Wariangon dari pekarangan merayap menuju pintu dapur, yang langsung dipenggal kepalanya oleh adik ipar saya.  Pada suatu malam juga pernah ada ular sebesar jari telunjuk merayap di tembok dapur, pun langsung ditebas kepalanya.

Jaman saya kecil, ketika masih banyak pekarangan, ular bukan sesuatu yang asing. Pada saat itu biasanya pada malam hari orang-orang tak berani menyebut kata ular (dalam bahasa Jawa Ula), kami menyebutnya oyod (akar).  Mungkin semacam doa atau pengharapan agar ketika tak sengaja menginjaknya si ular tak marah dan menggigit karena dianggap akar. Sekarang menyebut ular di malam hari tidak tabu lagi. Pekaragan sudah jarang, rumah berhimpitan, sungai lebih sering kering, orang hampir melupakan ular.


Bagaimanapun kini kita sudah jarang bertemu ular, ular sebagai bagian dari kehidupan tak semestinya dilupkan. Jangan sampai anak cucu kita tak kenal ular, lalu kaget ketika tiba-tiba melihatnya  di pekarangan kemudian menganggapnya mahluk dari luar angkasa.  Sesekali datang ke kebun binatang dan kenali jenis-jenis ular, siapa sangka ular itu ada di rumah kita.

2 komentar:

Inklocita mengatakan...

Wah sama banget nih. Dulu pas tinggal di wilayah Pajajaran, Bandung karena wilayahnya sebelahan sama sungai pernah tuh di rumah pagi pagi mau berangkat sekolah ada ular gede banget masuk, untungnya ada tetangga baik banget mau bantuin buat ngeluarin itu ular. sumpah serem bgt sih emang. hehe makasih udah post

http://www.inklocita.com/2017/04/apply-visa-jepang.html

Muhammad Affip mengatakan...

imklocita: makasih udah komen