Beberapa hari belakangan hujan turun seperti ingin menakut-nakuti saja. Kasus ini khusus untuk yang tinggal di Jakarta tentunya, atau mungkin di luar Jakarta pun keadaannya sama. Setiap sore langit gelap dipenuhi mendung. Angin bertiup kencang dan awan melaju digiring ke suatu arah yang kemudian turun menghempas ke bumi lalu pontang panting diterbangkan angin menghantam apa saja. Orang-orang yang bergerombol dan mepet ke tempat-tempat paling teduh pun tak terlewat dari percikan air yang pontang-panting itu.
Fenomena yang telah diprediksi oleh para ahli ini bagaimanapun sempat mengagetkan. Melihat langit menghitam yang membuat suasana jam lima sore tampak seperti telah lewat waktu maghrib sempat menghadirkan rasa ngeri juga. Dan ketika hujan turun yang disertai angin kencang orang-orang pun kian ribut karena air yang biasanya malu-malu masuk ke rumah kini seperti ingin menjajah. Air hujan itu masuk dari segala arah: dari pintu yang terbuka, dari genteng-genteng yang bergeser bahkan dari lobang pembuangan air di kamar mandi karena got meluap.
Kemarin ada cerita menarik di sekitar rumah. Seorang gadis ABG menangis karena rumahnya yang tak pernah kena banjir selama ini tiba-tiba kemarin kebanjiran. Entah seperti apa keadaan banjirnya yang jelas gadis itu menangis seperti anak kecil. Dia rupanya sendirian di rumahnya ketika hujan sedang turun lebat, sedang ayah ibunya jauh di luar, bekerja.
Ada-ada saja memang. Sesuatu yang jadi bahan tertawaan akhirnya. Karena kalau anak kecil yang menangis, biar pun sampai tetangga terganggu masih bisa dimaklumi, tapi anak SMU nangis di luar rumah hanya karena banjir tentu dianggap lucu. Ia terus menangis sampai seorang nenek menegurnya dengan mengatakan kalau yang dialaminya sekarang itu tidak ada apa-apanya dibanding orang-orang yang rumahnya di pinggir kali, mereka harta bendanya hanyut karena arus deras memenuhi rumahnya.
Sepanjang hidup saya belum pernah mengalami kebanjiran. Entah seperti apa rasanya, tapi biasanya ketika menyaksikan jalanan di depan rumah banjir saya suka turun ke jalan dan bermain-main air bersenang-senang. Ya, kalau sekedar banjir mungkin tak terlalu menjadi beban, tapi kalau harta benda hilang diangkut arus yang deras, bisa nagis juga kiranya.
Di tempat saya hanya mendung dan langit gelap aja, hujannya jarang, paling-paling gerimis aja. kalo jakarta hujan terus bisa banjir nih..
BalasHapusbanjir di mana-mana bro
BalasHapushehe suroboyo ra udah kawand.
BalasHapusmendung tok
tante yang di bekasi juga kebanjiran mas, katanya sih tahun ini gak ada musim kemarau
BalasHapusditempatku mendung doang .. paling-paling gerimis dikit
met aktifitas mas :)
aku kebetulan gak pernah juga sob.. tapi klo cuma bocor sih ya pernah apalagi klo anginnya gak karuan haha....
BalasHapustapi klo terjebak banjir sering... kaya kemaren tuh di kuningan haha..
happy blogging n semangat Sob..
emang hujan nakut-nakuti mas... maksudnya tiba-tiba mendung dan gerimis, bikin repot ngangkat jemuran :p ... eh, 15 menit kemudian cerah kembali
BalasHapusgak enak banjir mas, basah semua pastinya hehehe
BalasHapusSalam,
BalasHapusDitempatku baru saja usai banjir besar dan berhari-hari menjadi santapan berita media. Untung saja rumahku bebas banjir.
untung di Palembang gak banjir kayak di Jakarta, aku gak perlu stres mikirin banjir..
BalasHapusHujan sekarang gag manusiawi
BalasHapusaku sih kenyang kebanjiran dulu. jadi gak kaget lagi deh.
BalasHapusalarm dari alam, moga2 ngingetin qt buat bersahabat sama alam...
BalasHapusTomo: Surabaya nggak mau kompak rupanya.
BalasHapusVCC:tante ini deket jakarta tapi kok nggak kompak juga ya. :)
Ferdi:Happy blogging!
Angel:hahaha
Warcoff:bukan basah lagi tentunya. :D
Aldy:slamat kalo begitu.
Rita:Palembang nggak mau kompak nih sama Jakarta?
BalasHapusTukang colong:hujan kan bukan manusia?
Sang cerpenis:hujannya dimakan ya?
simple shoe:semoga.
kini hujan dan tangis menderu di mentawai.........
BalasHapusapa yang tinggaL di Tanjung Priok yah, sudah kebaL sama banjir dan haL itu di anggap biasa sebagai sarana taman rekreasi air :D
BalasHapus