Jumat, 14 November 2014

Hujan Lagi...Ah!

Sudah masuk pertengahan bulan November, dan langit lebih sering mendung daripada cerahnya, hujan pun telah jadi berita di mana-mana. Bukan hal aneh kalau pada bulan-bulan berakhiran “ber” intensitas hujan cukup lumayan, apalagi sudah hampir akhir tahun, yang lazimnya musim penghujan sedang merangkak ke level puncak. Sungai-sungai penuh airnya, sawah ijo royo-royo, wajah petani sumringah, tukang payung dan jas hujan riang berdendang.


Tapi tak semua senang, ada juga yang mengeluh. Tukang es, biasanya yang sering disebut-sebut sebagai makhluk yang patut dikasihani saat berlangsungnya musim penghujan, walaupun tentu saja soal rizki nalar kita lebih sering kecele. Namun yang jelas, bagi mereka yang setiap hari berkendaraan di jalanan Jakarta, musim hujan berarti tingkat masalahnya ada di ubun-ubun. Menghadapi macet saja sudah bikin kepala nyut-nyutan, ditambah hujan dan banjir menggenang di mana-mana sudah pasti akan bertambah pengeluaran untuk balsem gosok dan obat demam. Apalagi yang ada di bantaran kali, musim hujan artinya siap-siap kehilangan prabotan.

Ada suka ada duka, itu biasa. Tak hanya musim penghujan yang disikapi dengan ceria dan keluhan, musim kemarau pun demikian. Bahkan untuk musim yang kini waktunya sudah tak teratur—di tempat saya musim kemarau tak benar-benar kemarau karena kadang hujan tetap turun dengan curah dan waktu yang cukup lumayan—tetap saja sikap manusia tetap sama. Mungkin juga karena kondisi alam yang sudah rusak, sehingga kadang hujan sebentar menimbulkan bencana lalu saat matahari bebas bersinar panasnya seperti membakar.

Dan kini walau tak mesti hujan akan turun setiap hari, tapi hitungan musim penghujan tetap saja meningkatkan kewaspadaan. Tak cuma bagi warga Jakarta yang memang pelanggan banjir kiriman dari puncak, di kawasan pegunungan pun kecemasan akan adanya bencana longsor benar-benar menguras perhatian. Tentu saja ada harapan pada pemerintahan yang baru di negri ini, semoga mereka lebih sungguh-sungguh bekerja mengelola bangsa dan negara sehingga keseimbangan hidup bisa membaik.

Dan akhirnya saya jadi ingat dengan masa-masa dulu, waktu kanak-kanak saat musim hujan sering  saya main hujan-hujanan dan hal itu jadi kebiasaan yang menyenangkan dan tak mencemaskan orang tua. Kemudian saat tak ada hujan ramai-ramai mandi di sungai. Kini peristiwa semacam itu sudah sulit ditemui karena hujan seakan turun membawa penyakit dan sungai airnya selalu sedikit. Semoga ke depan fenomena alam tidak terus menerus disikapi dengan keberjarakan yang berlebihan, karena pastinya keberadaan semesta ini merupakan kombinasi serasi yang tujuannya untuk keuntungan. Ya, semoga kita bisa mendapat hikmah dari segalanya.




3 komentar:

mas huda mengatakan...

Hujan ngeluh panas ngeluh, harusnya kita pandai mensyukurui ya

Asep Haryono mengatakan...

Iya sekarang sudah mulai BOOMING Musim hujan di mana mana ya. Di Pontianak sendiri aja sudah seminggu terakhir ini huzzan terus. Brrrrrrrrrrrrrrr

Muhammad Affip mengatakan...

mas huda:ya, bersyukur dengan pandai hehe
Mas Asep: ya, dimana-mana sekarang ramai hujan