Senin, 13 April 2015

Bakar Sampah

Anda pernah membakar sampah? Saya hampir setiap sore selama di desa melakukannya. Diawali dengan menyapu sampah yang beragam di pekarangan, mengumpulkannya, lalu membakar sampai benar-benar sesuatu yang tadinya menggunung berubah menjadi setumpukan kecil abu. Seingat saya sejak SMP rutinitas menyapu dan membakar sampah telah saya lakukan. Bahkan waktu awal-awal di Jakarta, tinggal di rumah saudara yang rumahnya berhalaman luas pun hal itu menjadi  kegiatan wajib. Sampai terpikir, jangan-jangan profesi yang tepat untuk saya adalah jadi petugas kebersihan.


Di Jakarta saya kenal beberapa orang yang berprofesi sebagai tenaga kebersihan yang bekerja menyapu jalanan ibukota dari pagi sampai sore bahkan bisa sampai malam. Entah benar atau tidak, dia mengatakan dibayar Rp. 17000,- sehari dan jika sampai malam mendapat Rp 32000,-. Walau saya menganggap pekerjaan ini tak begitu berat, tapi rasanya bayaran dengan jumlah seperti itu tidaklah sepadan.  Lalu ada pula kenalan yang bekerja jadi tukang bakar sampah, untuk yang satu ini bekerja tidak sampai siang malam karena dia juga bisa berjualan koran pada sore sampai malam hari. Dan mengenai dua kenalan dengan dua pekerjaan berbeda itu, kesan saya si tukang bakar sampah lebih bangga dengan pekerjaannya jika dibanding yang setiap hari meyapu jalan.

Bagi saya menyapu halaman dan membakar sampah adalah sesuatu yang menyenangkan. Mungkin karena saya orang yang senang dengan kesendirian. Hanya berteman sapu lidi, tak banyak bicara, khusyu membaca benda-benda yang ada di depan mata. Cobalah jika ada kesempatan anda melakukannya, saya yakin ini lebih bermakna daripada duduk ngerumpi apalagi ngobrol tentang hal-hal yang tak pernah bisa dimengerti.


Saya kira sampah dibakar walau menghasilkan asap yang oleh beberapa orang dianggap mengganggu, lebih layak dilakukan daripada membuang berkantong-kantong sampah ke sungai. Cuma ternyata orang lebih memilih membuang sampah ke sungai daripada membakarnya. Di Jakarta sungai identik dengan sampah, di desa pun tidak ada bedanya. Sungai-sungai pun menjadi dangakal dan menyempit. Di Jakarta membuang sampah ke sungai kini kian di persoalkan, di desa sepertinya belum ada yang meributkan. Memang, bagi orang kampung membuang sampah ke sungai belum dikenali akibat buruknya, sedangkan membakar sampah  membuat diri tidak nyaman ketika asapnya berkeliaran ke rumah-rumah tetangga.


Jadi beruntunglah yang masih punya pekarangan luas. Atau perlu kiranya diupayakan mulai sekarang, di kampung-kampung atau di tiap-tiap RT di sedikan lahan khusus untuk menampung sampah dengan tungku bercerobong untuk bakar sampah. Bagi para remaja tempat penampung sampah bisa jadi tempat belajar mengolah sampah (adakah remaja yang mau?), tungkunya jadi sarana pekerjaan salah satu warga yang punya penyakit reumatik (hihi). 

6 komentar:

Popi mengatakan...

Jadi hobi bersihin sampah nih? terima panggilan ga?

Asep Haryono mengatakan...

Heiheihe mba Popi ada ada aja. Jadi tukang bakar sampah panggilan donk. Oh ya kira kira berapa tarif bakar sampahnya tuh?

*kaburrrrrrrr

Muhammad Affip mengatakan...

popi: trima Bu. tapi khusus untuk kita berdua ya
asep: khusus bu popi pak. cowo no way

Ipah Kholipah mengatakan...

di daerahku sekarang setiap hari rabu dan minggu sampahnya di ambil petugas sampah hehehe jadi jarang ada yang bakar sampah.

pakde sulas mengatakan...

kalau saya tidak pernah bakar sampah karena memang tidak ada lahan kosong, perkampungan kami sangat rapat dan padat

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

saya paling repot kalau tetangga bersamaan pada bakar sampah rasanya seperti bernapas dalam lumpur