Senin, 13 April 2015

Pantai Randusanga: Sekali Lagi

Setelah beberapa tahun tak melancong ke tempat pariwisata pantai andalan warga Brebes, Minggu pagi kemarin, 12 April 2015 kami berkesempatan menikmati asin air lautnya kembali. Selepas sholat Subuh kami melesat dari rumah, sampai di lokasi matahari sudah hangat di kuku (entah berapa kilo meter jalan yang kami tempuh). Ada yang beda pada perjalanan kali ini dengan perjalanan yang lalu, yaitu banyaknya orang-orang berolahraga pagi di jalan yang menuju ke Pantai Randusanga Indah atau yang terkenal dengan sebutan PARIN itu. Dan saya jadi ingat car free day di Jakarta yang selalu ramai setiap minggu pagi.


pantai ssisi timur yang memanjang dan sepi

Setiba di lokasi saya langsung jeprat-jepret cari bahan buat posting blog (saya merasa ini kewajiban). Setelah dapat beberapa, saya langsung tancap gas lari pagi menyusuri pasir pantai yang penuh sampah bekas air pasang. Pasirnya yang hitam --sekali lagi-- mengingatkan saya pada pantai Jakarta, Saya kira Taman Impian Jaya Ancol dulu pun tak jauh beda dengaan Pantai Randusanga (yang kata pengelolanya) Indah ini. 
jalan setapak ini bisa jadi penghalang air laut saat pasang
Yang saya rasakan pada kedatangan saya kali ini: tak ada perubahan berarti setelah sekian tahun berlalu. Dari dulu pantai ini hanya menyediakan hamparan pasir hitam yang kotor, gubuk-gubuk dari bambu tempat orang berjualan yang kebanyakan kosong, dan deretan kafe yang sepi (mungkin di malam hari kafe-kafe dan tempat karaoke itu ramai pengunjung). Sedangkan untuk masuk per orang dikenakan retribusi sebesar Rp 3000,-. Tarif yang murah sepertinya, tapi kalau mengetahui bahwa pantai-pantai di dunia yang indah dan benar-benar indah ternyata gratis dan bisa dinikmati warga dengan leluasa, saya jadi berhaarap ada sekelompok masyarakat yang menggugat penarifan itu sebagaimana Ancol pun terus digugat.
sampah dimana-mana
deretan cafe-cafe dan tempat karaoke 
Dan inilah beberapa gambar yang saya sempat ambil.

 jalan keluar masuk pantai yang bahunya jadi jemuran rumput laut
 orang tua sampai anak-anak menikmati pantai yang tenang
 di Ancol tempat bilas bertebaran dan gratis, di sini cafe jadi tempat bilas
 lesehan di pasir, makan pagi sambil berjemur
tambak bertebaran di kanan kiri jalan menuju pantai

3 komentar:

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

cantik ya mas cuma tidak dieksplorasi dan dioptimalkan jadi aset pariwisata

Rawins mengatakan...

belum pernah menjajah pantura, om
ini pantainya deket randudongkal gak..?

Muhammad Affip mengatakan...

Abdullah: ya, jadi kesannya sekedar jadi alat buat ngumpulin duit para oknum
Rawin: randudongkal jauh, tapi dekat randu sempal