Kamis, 10 Maret 2011

Telor Asin dari Brebes?

Telor asin. Mungkin tidak semua orang suka, tapi saya suka. Khas sekali makanan ini, entah bagaimana sejarah asal mulanya bisa muncul telor yang dibikin asin, yang saya tahu orang sering menyebut makanan ini berasal dari daerah tempat saya tumbuh besar, Brebes.


Sudah begitu lama tapi peristiwa itu masih sering teringat ketika melihat telor asin. Dulu saat masih sekolah di Brebes dalam perjalanan pulang naik angkot ada sepasang lelaki-perempuan yang sepertinya baru pulang kampung berdialog tentang makanan. Si perempuan yang sepertinya bukan dari Brebes bertanya pada si lelaki tentang apa makanan khas setempat. Jawaban si lelaki mungkin yang membuat saya terus teringat peristiwa itu, katanya makanan khas Brebes adalah Telor Asin. Si perempuan kelihatan tidak puas dengan jawaban itu dan terus mendesak, saya berpikir mungkin maksud peremuan itu adalah makanan sejenis empek-empek yang dari Palembang atau gado-gado dari Betawi. 

Entah apa makanan khas Brebes, telor asin sendiri saya sebagai orang pribumi merasa tidak yakin kalau makanan ini cuma ada di sekitar kampung saya. Mungkin di daerah lain atau di pulau selain Jawa ada telor asin tapi tidak diproduksi massal. Sedang di Brebes jelas sekali telor asin merupakan industri. Seperti kalau melewati jalan pantura dari pinggiran kota sampai jantung kota Brebes tumpukan telor asin banyak terpajang di etalase toko. Dan dari pusat kota menuju ke kawasan wisata pantai Randu Sanga banyak berdiri kandang bebek (itik) yang dari sanalah bahan baku telor asin itu diperoleh.

Di rumah pun ibu saya dulu sering membuat telor asin, bukan untuk dijual tapi untuk konsumsi sendiri atau ketika ada kebutuhan untuk hajatan. Proses awal pengasinan telor yang biasanya melibatkan banyak orang, adalah tontonan menarik bagi anak-anak. Seperti pengumpulan potongan bata merah yang kemudian dihancurkan; pembuatan adonan dari serbuk bata merah yang kemudian dicampuri garam; membungkus telor dengan adonan bata merah yang asin, biasanya butuh waktu seharian.

Telor bebek yang telah terbungkus adonan bata merah itu kemudian akan disimpan selama satu minggu atau lebih. Mungkin soal waktu pemeraman ini terkait kadar keasinan, makin lama disimpan telor pun makin asin. Dan telor akan direbus sebelum dikonsumsi. Daya tahan telor asin sendiri konon bisa sampai enam minggu. Nyam nyam nyam...

13 komentar:

ghost writer mengatakan...

bagi aku telur asin itu pembangkit selera makan ku..

Muhammad A Vip mengatakan...

wah, kalo saya krupuk. :D

Coretan Hidup mengatakan...

Iya, aku pernah nonton tayangan di televisi kalau telur asin brebes merupakan telur asin terkenal dan enak rasanya. Tapi belum pernah membuktikan sih

Lidya mengatakan...

saya salah seorang yang kurang suka telor asin :)

ReBorn mengatakan...

karena dicampur garem, pak. makanya jadi asin. wah, kirim kesini pak telor asinnya. :p

Anisayu mengatakan...

Waduh ini kesukaan saya, apalagi telur asin cocok buat numis pare hilang deh rasa paitnya pare , yang ada enak jadi makan banyak hehehe

Noeel-Loebis mengatakan...

nice info...

IbuDini mengatakan...

Telur Asin..suamiku paling doyan, oleh2 yang selalu dibawa kalau pulang dari tulung agung pasti telur asin.

M A Vip mengatakan...

ifan:cobalah bikin sendiri pake telor puyuh.
Lidy:haiya...
ReBorn:hua...
Anis:masa sih?
Noel:thanks
Ibudini:sip bu

TUKANG CoLoNG mengatakan...

aku suka makan telur asin. meski dulu rada shock ama baunya,hahahaha
dan aku ga pernah mikir darimana asalnya.. hehehehe payah banget emang aku nie. :D

Gaphe mengatakan...

paling enak telur asin brebes tuh yang kuning telurnya masir (mirip pasir), renyah dan nggak terlalu asin.. enak dimakan langsung.

ngomong telor asin jadi laper nih, keinget belom makan malem :))

archer mengatakan...

saya suka yang namanya telor asin hehe enak sih

Muhammad A Vip mengatakan...

Tukang colong:sekarang tau dong dari mana asalnya?
Gaphe:di KL ada telor asin nggak?
archer:sama!