Selasa, 12 Februari 2013

Dari Barongsai ke Sepeda Onta

Minggu kemarin pas Hari Raya Imlek saya jalan-jalan ke daerah kota dengan maksud ingin melihat Barongsai. Saya pergi tak pakai hitung-hitungan, pokoknya jalan saja dengan harapan ada pertunjukan Barongsai. Fokus saya ke Taman Fatahillah, karena di sana lapangannya luas dan sering ada pertunjukkan jadi saya menduga di Hari Imlek ada pertunjukkan barongsai, yang ternyata tidak ada.


Sering menyaksikan Barongsai di film-film mandarin membuat saya penasaran ingin melihat langsung, apa aslinya bisa selincah di film yang bisa melompat-lompat di atas tiang. Pernah saya melihat sosok Barongsai, tapi sekedar melenggok-lenggok tanpa aksi, bagi saya jelas tidak cukup. Dan kemarin Minggu saya sedikit kecewa.

Siang yang panas itu saya dan istri hanya menghabiskan waktu melihat-lihat orang berjualan yang semrawut di kawasan wisata Kota Tua. Kawasan wisata yang semestinya indah dan nyaman itu menurut saya sangat butuh penataan. Pedagang cindramata harus disediakan tempat khusus, dan pedagang makanan yang sampahnya berserakan harus ditertibkan.

Bagi anda yang pernah ke Kota Tua pasti setuju dengan harapan saya, terutama anda yang kalau pergi ke sana biasa menyewa Sepeda Onta. Bersepeda di lapangan yang semrawut jelas tidak nyaman, bias-bisa nabrak sana-sini. Kasihan juga penyedia sepeda kalau penyewanya sedikit karena suasananya tak mendukung.

Sepeda Onta ini adalah sepeda lawas untuk perempuan, yang saya kira bisa disamakan dengan sepeda motor jenis bebek. Saya setiap kali melihat sepeda jenis ini di Kota Tua selalu ingat masa lalu, karena dulu orang tua saya pernah punya dan jaman saya sekolah SMP sepeda itu andalan saya. Dulu saya menyebutnya sepeda ini dengan sebutan Pit Dames, yang seingat saya Dames itu merk sepedanya. 

Sekarang saya sudah tak punya lagi Pit Dames itu, kalau ingin menaikinya kini harus menyewa. Coba sepeda saya dulu tak dijual, pasti sekarang saya tak perlu menyewa bahkan bisa jadi saya sekarang jadi tukang menyewakannya. Ah nasib...

9 komentar:

meilya dwiyanti mengatakan...

laah mas belum pernah liat barongsai yang hebooh ?? yang melompat, meliukk liuk, bahkan tambahan atraksi lainnya...
kasiaaannn... hehehhehe

nontonnya di klenteng mas, pasti ada ituh kalo imlek...

pit'e bagus ya dicat warna warni..

SunDhe mengatakan...

Dhe juga belum pernah lihat barongsai asli, baru lihat barong bali aja..

kapan-kapan klo ada uang pit nya dibeli lagi :D

Ratnawati Utami mengatakan...

ya beli lagi dong, di jogja banyak dijual sepeda onta

Rawins mengatakan...

tenan kok
emang bikin males kalo ruang publik dah kebanyakan pedagang

zachflazz mengatakan...

pit dames kepunyaan bapak saya masih ada di rumah. coba saya pinjam lalu saya bawa kesini ya, bisa buat bisnis di kota tua.

Coretan Hidup mengatakan...

Wah, waktu ke Jakarta dulu, aku hanya melintas saja lho di kawasan kota tua ini. Padahal suasananya bagus banget ya. Sayang kalau penataannya amburadul. Untuk bersepeda jadinya nggak nyaman banget

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

sepedanya unik. yg merah tuh cantik ya

Muhammad A Vip mengatakan...

mei:saya ini lihat klenteng saja belum pernah
Dhe:barong bali? yang serem itu ya
Ami:nantilah ke jogja lagi nyari yang cocok hehe
rawins:pedagangnya sok nguasai lagi, kemarin lagi duduk ada pedagang yang ngusir katanya yang boleh duduk cuma yang beli
zach:jangan, buat ojek ning kampung saja
ifan:ada harapan gubernur baru membenahinya
Fani:hehehe

DJ Site mengatakan...

Sepeda Onta sama sepeda onthel ki sama apa beda toh? Nek onthel dulupun aku punya hhe...

Barongsai sampe sekarang blm pernah liat langsung, cm di tipi aja...