Senin, 18 Maret 2013

Bangsa Kreatif

Bangsa Indonesia adalah bangsa kreatif, seseorang pernah mengatakan itu dan nyatanya memang demikian. Serahkan saja sekeranjang singkong pada orang Jawa misalnya, maka kreatifitas itu akan muncul dalam bentuk rentetan makanan dengan banyak nama yang kalau dicatat mungkin akan menghasilkan sebuah buku yang sangat tebal. Bahkan saking tebalnya bisa membuat orang yang ingin membacanya jadi malas bahkan untuk sekedar menyentuhnya. 


Awul-awul, awug-awug, angleng, cetil, cetot, gemblong kocar kacir, gemblong tekek, gadung, gejros, dan masih banyak lagi adalah jenis makanan dari singkong yang di kampung saya banyak pembuatnya atau penjualnya. Itu baru dari kampung saya yang tidak terkenal produksi makanannya, dan orangnya juga tidak terkenal doyan makan. Jadi saya yakin di tempat anda ada lebih banyak lagi jenis makanan dari singkong yang bisa menjadi bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa kreatif.

Dan karena kreatif itu bagian dari jiwa bangsa ini, pada level masyarakat kebanyakan kreatifitas bukanlah sesuatu yang dibangga-banggakan. Kreatif bagi orang kebanyakan tak beda dengan berkeringat saat kepanasan dan tidur saat ngantuk, sesuatu yang tak perlu dibesar-besarkan apalagi sampai dijual mahal.

Cuma memang sekarang ada sekelompok orang yang terpengaruh budaya setan yang memperlakukan kreatifitas dengan berlebihan. Dipatenkanlah, dijual dengan mahal, bahkan lebih dari itu menjadi sesuatu yang khusus diperuntukan bagi satu dua orang saja. Dan kecenderungannya yang khusus itu yang dianggap produk kreatif.

Beberapa hari lalu saya menemui penjual dompet atau tepatnya tas kecil di pasar. Tas yang sepertinya dibuat dari bahan sisa itu menarik karena warnanya dan bentuknya, dan lebih menarik ketika tahu harganya yang ternyata cuma dua ribu rupiah. Bagi saya itu kreatifitas khas kita, mengolah barang melimpah yang ada didepan mata menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan orang banyak tanpa harus dilebih-lebihkan apalagi dalam hal harganya. Coba etos semacam ini terus dipertahankan dan diunggulkan, pasti tak ada bawang merah mahal dan bawang putih mahal. ya toh?

Dan akhirnya sampainya di sini juga.

8 komentar:

Obat Sakit mengatakan...

Singkong enak mas dibuat utri..tahu tidak ya utri ini

Ami mengatakan...

kreatif terus ke bawang... ini aku jadi pengikut setia berita bagaimana pemerintah bisa menstabilkan harga. kok bisa gitu ya...

catatan kecilku mengatakan...

Memang harus diakui bahwa bangsa Indonesia memang kreatif... apalagi dalam kondisi serba kepepet maka kreativitas akan muncul tanpa diminta hehehe

Fajar mengatakan...

asli om.. orang Indonesia..sebenarnya mempunyai kreatif yang tinggi... setuja..pokokmen.. thiwul..gathot, manggleng..mari di mari..he.heh..

Muhammad A Vip mengatakan...

Tomo:utri aku gak pernah weruh iku, alot opo ?
Ami:bawang masih tinggi, yang busuk pun dijual
mbak Reni:siapa yang minta mbak
Fajar:terusin dong

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah asal jgn kreatif yg salah ya. hihihi

Rawins mengatakan...

lha pamer panganan jaman jepang
jadi kangen...

Dihas Enrico mengatakan...

tambah kreatif..
sekarang ada bakso tikus,naged dari udang busuk,dll....
:P