Kamis, 13 Maret 2014

Money Politic



Siap-siap mau coblosan saudara-saudara. Pemilu legislatif kurang dari sebulan akan berlangsung.  Apakah anda sekalian sudah siap memilih? Sudah tahu betul tokoh yang akan dicoblos matanya di surat suara nanti. Atau mau model judi saja, untung-untungan yang penting berpartisipasi atau senang dengan tampang cakepnya. Perkara dia kemudian hanya jadi beban negara masa bodoh saja. Kalau saya karena tak ada yang kenal dengan mereka maka daripada berjudi lebih baik ambil pilihan pasti dengan tidak mencoblos.


Mereka  para calon legislatif bisa dilihat makin aktif mempromosikan dirinya. Sepanduk sudah, poster-poster terpampang di pohon-pohon, di tiang listrik bahkan di teras-teras rumah para warga. Mereka berupaya mencitrakan dirinya sebagai manusia baik-baik dengan senyuman, dan macam-macam. Dan ketika kini waktu pemilihan makin dekat tingkah mereka tentu makin hebat, ada yang mendatangi warga dengan membawa aneka sumbangan, atau mengundangnya di sebuah tempat yang bagus.

Seperti yang dialami anak-anak muda di sebuah komplek perumnas semalam. Mereka anak-anak muda yang mengatasnamakan Karang Taruna diundang di suatu tempat pertemuan, dijamu dan pastinya diberi uang. Entah apa yang terjadi di sana, saya hanya dapat cerita dari salah seorang yang ikut kalau itu Money Politic atau politik uang. Di sana pastinya ketemu caleg dan sangat mungkin dikibuli.

“Lumayan gocap” begitu katanya, maksudnya tentu saja uang lima puluh ribu rupiah. Di tempat pertemuan itu kumpul anak-anak muda terutama remaja sebagai pemilih pemula. Mungkin para caleg itu berpikir anak-anak muda itu bisa dipengaruhi dengan uang lima puluh ribu. Mungkin saja bisa beberapa orang, tapi saya yakin secara umum anak-anak muda bahkan remaja kita sulit untuk dipengaruhi secara langsung. Apalagi sudah lama ada semboyan: Terima Uangnya Jangan Pilih Orangnya.

Saya di kampung waktu pemilu lalu juga pernah terdaftar namanya sebagai orang yang akan menerima uang politik itu. Jadi para caleg itu memanfaatkan orang-orang yang paling dekat dengan warga agar mengajak memilih dirinya dengan iming-iming uang. Warga didaftar lalu dihubungi secara perorangan. Tapi saya yang golput tidak kebagian yang konon jumlah uangnya cuma sepuluh ribu.

Sesuatu yang biasa pastinya itu. Apalagi sepertinya tidak ada sanksi apapun. Dan mereka para caleg itu pun banyak yang tak punya urat malu, tak jelas prestasinya apa tapi ikut-ikutan maju mau ngurus negara. Bahkan banyak yang konyol, tahun lalu di berita ada caleg tak terpilih yang meminta kembali pemberiannya pada sebuah rumah ibadah.

Jaman uang, serba-serbinya pakai uang. Mau jadi pejabat bagi-bagi uang. Mau jedi pegawai negri setor uang. Mau masuk surga ada juga yang memintai uang. Dan kita membiarkan diri larut dalam dunia uang yang terkesan menyenangkan ini. Jaman politik uang ya, Bro?

2 komentar:

Obat Sakit mengatakan...

aku loh nyoblos kalo diberi uang olehnya kang.
buktinya tidak minta saja sudah 3 orang datangi rumahku agar memilihnya.
yo aku milih yang bisa memberikan uang banyak to..hehe

Muhammad Affip mengatakan...

hihi...banyaknya berapa, bisa buat beli pulau tidak?