Kamis, 29 Mei 2014

Kecewa? Sudah Biasa!

Dukung mendukung capres kian seru saja padahal masa kampanyenya belum dimulai. Ada yang rasional ada yang emosional, ada yang serius ada pula yang sekedar untuk canda-candaan. Lebih mudahnya untuk mengetahui itu semua silahkan menyimak laman jejaring sosial.


Saya kira mereka yang setiap hari pikirannya atau emosinya dibiarkan larut dalam kegaduhan yang kini tengah berlangsung di negri tercinta ini menyadari bahwa sangat mungkin mereka akan menanggung kecewa, tapi mereka mungkin menganggap kecewa adalah hal biasa. Ya, kita memang bangsa yang sudah biasa kecewa atau lebih tepatnya dikecewakan. Dalam sejarah bernegara kita adalah rakyat yang bertahun-tahun rindu keadilan. Tanah air yang sumber daya alamnya melimpah dan diolah pemerintah tentu saja diharapkan bisa membuat hidup segenap warga bahagia. Tapi apa daya, yang bergembira dari zaman ke zaman justru mereka saja yang berkuasa sedangkan rakyat terus diperlakukan semena-mena.

Kini calon penguasa baru sedang bersaing menuju puncak, dan kita ramai-ramai mendukung pilihan masing-masing, bahkan persaingan ini yang mestinya sekedar permainan, jadinya kini seperti permusuhan yang siap menuju perang. Bahkan ada politisi senior yang mengatakan ini adalah perang Baratayuda, entah siapa Pandawa siapa Kurawa.

Menyimak itu semua rasanya begitu memuakkan, entah bagaimana nanti ketika masa kampanye tiba. Saling cela, melontarkan kata-kata tak pantas, mengatasnamakan agama untuk mendapatkan pembenaran, seakan-akan kita di batas antara hidup dan mati sehingga seenaknya saja mengekspresikan diri seakan besok tak akan saling bertemu lagi.

Padahal kenyataannya kita sedang berupaya membangun negeri tempat kita hidup bersama ini, karena kita masih percaya hari esok tetap ada. Dan upaya yang ada dimana kita kini memasrahkan diri pada sosok-sosok yang kita angggap mumpuni itu sangat mungkin harapan kita nanti tak terpenuhi. Tapi mungkin karena kekecewaan yang telah dialami bertubi-tubi sehingga kini kita seakan sudah tak peduli dengan sesuatu yang baik, jadi seperti iblis saja karena kecewanya maka dia  berupaya agar orang lain pun mengalami yang dialaminya juga.

Tapi konon bangsa kita bangsa pelupa, sekarang bisa jadi saling cela.mencela, besok sangat mungkin ngumpul bareng sambil tertawa-tawa. Walaupun saya ragu apa benar sakit hati bisa begitu saja terlupa. Saya malah lebih yakin kalau kita bangsa dewasa, saking dewasanya malah sehingga kita sangat matang dalam berpura-pura. Asal ada maunya pendengki bisa senyum lebar dan manis kata-katanya. Dan seterusnya dan seterusnya.


Juga kedewasaan pula yang membuat kita punya ruang untuk menyimpan rasa kecewa. Semoga tulisan ini bisa mengurangi beban ruang kecewa anda. Hahaha

5 komentar:

Obat Sakit mengatakan...

mugo prabowo menang mas
bukan pelupa, tapi karena hati orang Indonesia dasarnya baik

duniaely mengatakan...

Aku skrg kok malah malas ya mas mengikuti pemilihan capres :(

zach flazz mengatakan...

wong endonesa laka sing dewasa nang puluitik ya Kang. kudune disekolahna dhisit.

Muhammad Affip mengatakan...

Obat sakit: sampean Prabowo, aku Jokowi. sampean ngono aku koyo iki
Mbak Ely: makin seru dan mengharukan lho mbak
zach: sekolah uwis, pan apa maning coba

alkatro com mengatakan...

dari itungan mata matika kursi:
nek de joko wi kalah, wis lumrah
tapi nek nganti bisa menang.. yo pancen luar biasa :D