Minggu, 17 Mei 2015

Hari Buku Nasional 2015

Ternyata oh tenyata. Ternyata siang tadi 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Saya baru tahu tadi, itupun gara-gara buka portal berita karena ingin tahu hasil pertandingan sepakbola. Ternyata ada hari buku di negara yang warganya bukan pembaca buku. Tentu saja banyak orang Indonesia yang setiap hari tak pernah jauh dari buku, entah itu buku kwitansi, buku nota atau buku gambar, namun secara umum orang kita bisa dibilang tak apresiatif terhadap buku.



Hari Buku Nasional, sudah pasti maksudnya bukan untuk memperingati atau untuk mengingatkan kita pada buku tulis atau buku catatan hutang yang selalu ingin kita lupakan. Peringatan ini pastinya upaya agar masyarakat sadar pada pentingnya membaca buku-buku bacaan. Buku adalah jendela ilmu, begitu kata pepatah. Dengan membaca buku kita jadi banyak tahu, dan tentu saja membaca buku membuat kita kritis dalam berpikir.

Menurut hasil penelitian, orang Indonesia setahun hanya membaca satu buku.  Menurut pengamatan saya sebagai orang desa juga begitu, bahkan bukan setahun tapi bertahun-tahun orang kita pada umumnya hanya punya kebiasaan membaca satu buku yaitu Al Quran, itupun membaca dengan pengertian mengejanya bukan membaca untuk mengetahui makna dan memahaminya. Pada bulan Romadlon yang sebulan lagi akan tiba, biasanya akan ramai di musholla-musholla orang membaca Al Quran ini pakai pengeras suara sampai tengah malam.

Bangsa ini memang bukan bangsa yang tumbuh kembang bersama buku. Tradisi membaca atau mengeja sampai menghafal dan mengaji sebenarnya bukan hal asing, tapi entah mengapa hal itu hanya hidup di dunia sekolah. Artinya ada tradisi membaca buku tapi dalam suasana yang dipaksakan dan menekan. Buktinya anak-anak sekolah hanya satu-dua yang benar-benar tetap mengakrabi buku sampai saat mereka lepas dari dunia sekolahan.


Untung ada toko buku bagus seperti Gramedia yang bisa jadi tempat jalan-jalan. Cuma sayang toko buku seperti Gramedia dan Gunung Agung hanya ada di kota-kota besar, di kota-kota kecil toko buku masih model kios yang pembeli  tak bisa leluasa mencari buku yang diinginkan. Bahkan di Tegal yang bisa dibilang bukan kota kecil, Gramedia tidak buka cabang. Pernah ada toko buku model swalayan seperti Gramedia beberapa tahun lalu, beberapa hari lalu saya lihat sudah tutup. Buku memang tidak meningkatkan pamor, beda dengan hape atau celana dan sepatu.

Jadi selamat Hari Buku Nasional saja dari saya. Hidup Indonesia!

3 komentar:

pakde sulas mengatakan...

Ooo ternyata ada hari buku nasional, aku tak pernah tahu.

menggalakkan baca buku memang sangat sulit, aku bahan kesulitan untuk mengajarkan membaca buku pada anakku

Obat Herbal Keloid mengatakan...

dengan Hari Buku Nasional, akan memberi semangat kepada kita untuk menjadikan “Membaca” sebagai budaya di dalam kehidupan kita.

Muhammad Affip mengatakan...

pakde sulas: saya juga baru tahu ada hari buku lho, pakde
Obat Herbal: membaca blog terutama haha