Sabtu, 11 Juli 2015

Iedul Fitri: Bungkusan dan Bingkisan

Tadi siang di rumah situasinya ramai seharian; ada banyak wanita bikin kue dan ada laki-laki bebenah rumah. Ceritanya istri saya punya bisnis terima pesanan kue-kue (apalagi menjelang lebaran), dan siang tadi ada yang pesan klepon dan dadar gulung. Seharian klepon dan dadar gulung dibuat untuk dibagikan oleh pemesannya kepada tetangga sebagai bingkisan lebaran. Tentunya klepon dan dadar gulung yang makanan basah dan tidak awet cuma tambahan, bingkisan pokoknya makanan kalengan bikinan pabrik.


Sudah tradisi, pada saat menjelang lebaran orang-orang akan berbagi dengan sanak kadang dan dengan tetangga. Orang-orang yang banyak duit di kota-kota akan berbagi parcel sebagai bingkisan berharga mahal. Orang banyak duit di kampung berbagi aneka biskuit dan sirop bikinan pabrik ternama. Yang duitnya pas-pasan cukup gula dan teh ditambah kue-kue murahan.

Itu tradisi yang berlangsung sekarang. Orang-orang sudah cari gampangnya saja: ada duit, belanja di toko, dibungkus kantong plastik, diantar sebelum hari lebaran tiba. Beda dengan jaman saya kecil dulu, waktu itu orang-orang membikin kue-kue sendiri. Saya masih ingat sepekan menjelang lebaran, dulu ibu saya selepas sholat taraweh pasti sibuk bikin kue-kue, seperti: rempeyek kacang (baro-baro), kembang goyang, sagon dan lainnya. Sehari sebelum lebaran bikin lepet dan lontong. Makanan-makanan itu yang kemudian jadi bingkisan dibawa saat “nyadran” atau berkunjung dari rumah ke rumah di hari Iedul Fitri.

Itulah tradisi, peristiwa turun temurun. Kelak mungkin akan ada gaya beda lagi, seperti parcel mungkin saja orang-orang kampung pun akan ikut-ikutan membuat semenarik mungkin bingkisan lebarannya, jadi tidak sekedar bungkusan. Saat negara ini benar-benar makmur mungkin tak sekedar berbagi makanan, bisa saja berupa prabotan rumah tangga, sepeda motor, mobil bahkan mungkin rumah. Semua itu tentu saja ekspresi kegembiraan menyambut “Hari Istimewa” setahun sekali. Walau tak sedikit yang mengeluh karena banyaknya duit belanja yang keluar.

Klepon dan dadar gulung yang dibuat istri saya tadi siang saya kira bukan makanan khas lebaran, tapi saya merasa senang masih ada orang yang berbagi di hari lebaran dengan makanan yang sudah sulit dicari. Andai saat lebaran dijadikan secara resmi oleh negara sebagai pekan berbagi makanan nasional, tentu akan menggembirakan bagi saya yang rindu makanan-makanan lama. Di mana dalam sepekan seluruh warga membuat aneka makanan lokal yang bahannya dari lokal pula untuk saling berbagi di Hari Raya Iedul Fitri.

Bagaimana dengan anda, sudah ada bungkusan yang  siap jadi bingkisan? Selamat menyambut Hari Raya Iedul Fitri, semoga selalu ada damai di hati.



3 komentar:

EKA IKHSANUDIN mengatakan...

Kalau di tempat saya sih kadang ada kang bertukar kue Hari Raya ke Tetangga, kadang ada yg hasil masakan sendiri, kadang ada yg dapat beli juga... :)

Info Ponsel mengatakan...

Kalau di tempatku tidak ada tradisi seperti itu tapi Tradisi yang bagus bisa saling berbagi..

Muhammad Affip mengatakan...

EKA: sekarang di tempat saya sepertinya orang sudah pada malas bikin makanan sendiri
INFO: ya, sesuai anjuran agama