Minggu, 19 Juli 2015

Serba-serbi Lebaran

Hari Raya, apapun namanya apalagi Hari Raya Iedul Fitri yang dirayakan umat muslim yang mayoritas di negeri ini, sudah pasti tak hanya meriah namun juga kaya nuansa. Dan saya akan berceita tentang apa yang berlangsung di kampung kami, kampung yang lama tak saya ikuti suasana lebarannya. Saya akan ceritakan di sini karena saya anggap unik dan menarik. Sebelum panjang dan lebar, saya ucapkan dulu Selamat Hari Raya Iedul Fitri Mohon Maaf Lahir sampai ke Batin.


Sejak lahir sampai setua sekarang, saya telah tinggal atau menetap di lebih dari sepuluh kampung dan telah mengalami banyak peristiwa lebaran. Di sekitar Brebes dan Tegal setidaknya ada tiga desa yang pernah saya tinggali dalam waktu yang lumayan lama, yang tentu saja tradisi lebarannya saya kenali. Tak beda banyak tradisi lebaran di desa dengan lebaran di kota besar seperti Jakarta, namun tetap saja ada sesuatu yang ada di suatu tempat tidak ada di tempat lain.

Secara umum suasana lebaran di banyak tempat yang pernah saya tinggali tidak berbeda jauh; malam lebaran di masjid ada orang-orang bertakbiran pakai pengeras suara, ada orang-orang saling hantar makanan dan zakat fitrah, jalanan ramai oleh anak-anak yang bergembira merayakan malam kemenangan. Dan malam begitu panjang.

Saat pagi lebaran tiba, di desa umumnya Sholat Ied di selenggarakan di masjid-masjid. Sedangkan di kota selain di masjid-masjid ada pula yang pelaksanaan sholatnya di lapangan terbuka, di terminal bus, dan di jalan raya. Dan di kampung saya ada Sholat Ied yang di laksanakan di langgar (surau atau musholla ). Mungkin bukan hal aneh ada musholla dipakai Sholat Ied, cuma saya tertarik dengan tradisi ini karena jarak musholla dengan Masjid Jamie hanya sekitar dua ratus meteran. Lagipula hanya pada Lebaran Iedul Fitri, pada lebaran Iedul Adha semua kumpul di Masjid Jamie.
dari dalam sampai halaman, lelaki-perempuan,  sarapan rame-rame setelah sebulan tak sarapan

Saya ceritakan di sini tradisi di musholla kami itu, karena belum pernah saya temui di tempat lain yang semacam ini. Di satu desa pun cuma satu musholla yang begini. Tak cuma sholat Ied di musholla yang letaknya tak jauh dari masjid utama, lebih dari itu setelah selesai sholat dan mendengar khotbah, jamaah tak langsung pulang tapi tetap duduk dan makan tumpeng rame-rame. Karena musholla ini bisa dibilang milik pribadi, sudah tentu yang menyediakan tumpeng keluarga dari pemilik musholla tersebut.

Sudah tentu ini tradisi yang telah lama berlangsung, sesuatu yang layak dijaga keberadaannya sebagai sesuatu yang unik. Bahkan menurut saya perlu dilestarikan, bayangkan andai setiap selesai Sholat Ied di manapun diakhiri dengan makan bersama sembari bermaaf-maafan, besalam-salaman, pastinya syiar Islam sebagai agama yang menganjurkan berbagi tidak cuma ada di dalam ceramah. Apalagi dalam Sholat Ied orang yang paling kaya dan orang yang paling miskin biasanya berkumpul tanpa sekat.


Bagaimana saudar-saudara, adakah yang unik di lebaran anda?

5 komentar:

Imerlina Putri mengatakan...

meriah sekali ya
Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin

Djangkaru Bumi mengatakan...

Enak sekali bisa makan sarapan gratis. Ikut dong. Ditempatku tidak ada yang unik. Setlah solat id pulang kerumah masing-masing.

Mangs Aduls mengatakan...

Mohon Maaf Lahir bati dulu kang barangkali ada yang tidak berkenan.

deket gini jaraknya kang. kenapa ga di samakan aja kang. kan tumpengnya bisa lebih gede nanti kang. hehehe

Muhammad Affip mengatakan...

sekali lagi: Minal Aidin WAl Faizin

Indra Kusuma Sejati mengatakan...

Enak juga ada acara silaturahmi setalh sholat ied, sama seperti di tempat saya Kang, walau hidup dipinggiran Kota tradisi seperti ini tetap ada. Mohon maaf lahir batin ya Kang. Selamat Idul Fitri.