Rabu, 10 Februari 2016

Musim Penghujan dan Desaku

Rasanya sudah benar-benar musim penghujan. Setiap hari kini hujan selalu hadir walau cuma gerimis beberapa saat. Jalan raya desa kami yang sebagian besar rusak dan belum diperbaiki sudah pasti terus-menerus berlumpur dan di sana-sini kubangan air siap menjebak pengendara motor. Air di mana-mana: di jalan raya, di sawah, di teko, di cangkir, di galon dan tentu saja di sungai. Ya, di musim hujan sungai kini kembali eksis sebagai saluran air setelah di musim kemarau sungai dipenuhi sampah rumahtangga membusuk.


Tentang sungai yang kembali dialiri air di musim penghujan, saya merasaakan hal ini jadi bagian dari kebahagiaan kami. Dan kami adalah semua warga, tentu saja. Saya kira sudah jadi fenomena yang lazim ada di mana-mana (dari kota sampai ke desa), sungai-sungai mendangkal dan menyempit ditimbun tumpukan sampah-sampah rumahtangga. Sampah-sampah itu saat kemarau mengisi hampir sepanjang sungai, terutama di sekitar jembatan sampah bisa-berkarung-karung dan menimbulkan bau busuk. Kini air melimpah, sampah terseret entah sampai di mana, bau busuk pun untuk sementara menghilang.

Soal bau busuk di sekitar sungai, mungkin bagi mereka yang tinggal di pinggir sungai, bagaimanapun mengganggu bisa tidak diambil pusing. Apalagi jika mereka sendiri pembuang sampahnya. Yang sering menggerutu tentu saja orang-orang yang rumahnya jauh dari sungai dan sudah sadar diri tidak membuang sampah sembarangan. Seperti saya sering mengeluhkan—sekedar mengeluh—kepada istri , karena setiap kali sholat di musholla sering dihampiri bau busuk sampah.

Andai saja sungai tak pernah kering sepanjang tahun. Dan orang-orang sadar bahwa membuang sampah di sungai sama dengan menanam benih banjir. Lalu, ini dia, warga meninggalkan kebiasaan lama yaitu buang air besar di sungai, rasanya kita bolehlah merasa sebagai manusia beradab. Sekarang ini, di kampung-kampung rumah-rumah bentuknya sudah bergaya gedongan, tembok semua bahkan keramik menempel dari  lantai sampai dinding,  perangkat elektronik tumpah ruah di dalamnya, di teras rumah berjejer sepeda motor model terbaru, tapi sayang banyak dari mereka yang tak memilik wece. Saya tidak tahu apakah pembangunan wece umum diinginkan oleh warga?

Entah mengapa, padahal kini pekarangan mulai habis dan rumah-rumah sudah banyak yang berdiri di pinggir sungai, tapi jamban tertutup yang sehat seakan belum jadi kebutuhan.  Sampah di mana-mana mengotori tanah, air dan udara. Di Jakarta pemerintah provinsinya sedang giat melakukan pembenahan; sungai dibereskan, warga ditertibkan dan aneka program tengah diupayakan. Harusnya gerakan semacam ini digalakan di seluruh negri, tapi apa daya berbuat baik bak memanjat tebing terjal.


Yang jelas sungai sedang banjir. Musim hujan masih akan berlangsung dua sampai tiga bulan ke depan. Warga yang alergi bau sampah masih bisa tersenyum lebar, buang air besar di sungai pun tak lagi sambil menahan nafas. Selamat menikmati musim penghujan buat warga desaku, kiamat masih jauh.

5 komentar:

Mangadul Ganteng mengatakan...

di saya juga sama mas sudah musim hujan. ada aja hujan walau hanya sedikit.
ia mas sudah menjadi rutin tiap hujan air menggenang bahkan banjir. di saya juga sama mas begitu. tapi utungnya saya g deket sungai apalagi yang banyak ee nya

Icah Banjarmasien mengatakan...

Tempat saya banyak jalan yang becek sudah bang..heee

alkatro com mengatakan...

'desaku'.. emang sampean sudah pulang kampung mas?
apa jakarta masih ono kampung yang banjir? adane kan kota yang banjir :D

nurul iman mengatakan...

Jorok juga ya mas.

Muhammad Affip mengatakan...

mang adul: di tempatku dekat sungai atau tidak tetep aja banyak ee berkeliaran... rumah bagus-bagus tapi gak pada punya wc di sini haha
icah: merdeka~!
alkatro:hahaha
nurul: gak juga haha