Senin, 24 April 2017

Fenomena Pedagang Kaki Seribu

Anda yang tinggal atau pernah menetap atau sekedar pernah jalan-jalan ke kota pasti sudah akrab dengan yang namanya pedagang kaki lima. Pedagang yang menggelar lapak dagangannya di kaki lima atawa trotoar itu bisa dibilang ciri dari wajah kota-kota di Indonesia, terutama Jakarta. Entah di kota-kota lain di negara-negara sebrang. Bisa jadi ada, cuma mungkin lebih tertata dan kaki limanya sudah  berubah jadi kaki sepuluh atau malah kaki seribu.


Kaki lima adalah istilah lain dari trotoar yang konon dulu lebarnya lima kaki (kira-kira satu setengah meter). Di negara-negara maju, trotoar –kalau lihat di televisi—lebarnya sudah tak lagi lima kaki, di sana trotoar bersih dan lapang yang membuat pejalan kaki bisa merasa nyaman. Di Jakarta pada wilayah tertentu ada upaya membangun trotoar yang lebar, bersih dan nyaman untuk jalan-jalan, termasuk dalam proyek ini adalah penertiban pedagang kaki limanya. Tapi yang namanya pedagang kaki lima bolak-balik digaruk tetap saja ada bahkan terus bertambah.


Ada banyak cerita sukses yang diawali dari kaki lima, tapi yang terus jatuh bangun pun tak sedikit. Tapi kini ketika jarak kota dan desa seakan kian dekat, pedagang kaki lima yang dulu hanya ramai di kota kini di desa-desa pun sudah ramai pula. Apa yang dulu hanya ada di kota, kini mudah di temui di desa-desa. Dari pedagang makanan sampai penjual pakaian, ada. Penjual pakaian bekas sampai alat elektronik bekas , digelar di pinggir jalan tak beda dengan di Tanah Abang. Saya menduga mereka yang kini eksis di desa sebagai pedangang asal gelar di pinggir jalan adalah alumni-alumni Jakarta.

Mereka bisa jadi korban gusuran, atau orang yang pernah ikut bantu-bantu di kaki lima di kota kemudian memilih berjualan di desa yang lebih tenang suasananya. Kalau dilihat kebanyakan pedagang yang buka lapak di pinggir jalan di desa adalah penjual makanan yang modelnya sama seperti yang ada di Jakarta. Ada pecel lele, nasi goreng bahkan angkringan model Jakarta. Apalagi sekarang sedang musim orang main patok bahu jalan. Entah siapa yang memulai, di banyak desa tepian jalan rayanya di patok-patok kemudian diperjual belikan kepada orang yang mau buka lapak. Jadi di desa yang belum ada trotoar atau kaki lima di sana, pedagangnya sudah banyak mangkal siang malam di bahu jalan.

Apakah mereka pedagang kaki lima? Tak ada kaki lima di sana, yang ada adalah pedagang yang meninggalkan kota dan berupaya eksis di desa. Jadi bisa dibilang mereka pedagang kaki seribu. Mereka bisa jadi karena takut digaruk Satpol PP lalu pulang ke kampung.  Maka kini, desa-desa yang jalan rayanya beberapa tahun lalu sunyi senyap kini pada malam hari bisa terang benderang oleh jejeran pedagang kaki seribu. Tak hanya di wilayah yang padat penduduk, di jalan raya yang kanan-kirinya sawah pun lapak-lapak permanen dan tak permanen berbaris memanjang.


Kiranya ada hubungan apa pedagang kaki seribu ini dengan globalisasi?

2 komentar:

defantri.com mengatakan...

ada kalanya kita akan rindu makan di kaki lima, mereka itu penolong
penolong di saat rupiah kita hanya cukup untuk belanja di kaki lima.

Berdasarkan suvey cak lontong bahwa pedagang kaki lima kakinya paling banyak dua

Muhammad Affip mengatakan...

terimakasih sudah komeng, Cak Lontong bercanda...