Rabu, 14 Juli 2010

Tanah Air Beta, Tanah Air Saya

Film komersial yang mengungkap realitas sangat langka di negri ini. Setidaknya kalau melihat kondisi sekarang. Maka menyebut Ari Sihasale sama saja menyebut kelangkaan itu. Ari yang tak lain adalah suami aktris Nia Zulkarnain, merupakan sutradara yang meski  belum banyak membuat film, tapi film-filmnya yang terdahulu sangat diperhitungkan. Setelah menghadirkan dunia Papua dalam Denias, kini sutradara muda ini menghadirkan Atambua dalam film terbarunya Tanah Air Beta (TAB). Sebuah film yang menceritakan keadaan di perbatasan Indonesia-Timor Leste, yang kondisinya belum beres semenjak pemisahan.

Film-film bioskop kita sekarang yang jumlahnya terus bertambah,  kebanyakan atau hampir seluruhnya hanya sibuk menampilkan citraan  menipu. Mengajak penonton masuk kedunia entah-berantah yang membuat kita tersesat bahkan ketika kita keluar dari gedung bioskop. Kerlap-kerlip keindahan yang banyak disajikan di sana pada akhirnya seperti omong kosong belaka. Maka film seperti TAB ini diharapkan menghadirkan makna yang diabaikan di dunia omong kosong ini. Meski fiksi, namun dengan latar cerita yang riil diharapkan mampu membantu penonton melek akan hidupnya.

Di tengah masyarakat yang terus diajak masuk ke dunia entah-berantah oleh segenap media yang beredar, menghadirkan realitas-realitas yang tersembunyi--yang benar-benar ada di sekitar hidup kita tapi digelapkan--sungguh-sungguh penting. Agar kita tidak terus pontang-panting mencari sesuatu yang tak ada, lalu gampang mengakui apa-apa yang bukan miliknya. Menghadirkan kesengsaraan, keterbelakangan mungkin kurang menguntungkan secara materi mengingat umumnya kita yang memang terbelakang  lebih senang berpaling dari kenyataan. Namun mengingkari kenyataan dengan menyembunyikannya tak beda dengan menyembunyikan bara dalam sekam.

TAB tampak mengingatkan kita bersama bahwa di bumi tanah air ini ada banyak masalah yang butuh penanganan pasti. Begitu banyak masalah yang terkesan diabaikan di negri ini, maka film disamping menghibur mestinya juga mampu membantu manusia membuka mata agar lebih siap menata masa depan. Bukankah masa depan lebih utama dari hari ini?

5 komentar:

tomo mengatakan...

film ilusi gan ya

Aby Umy mengatakan...

kayaknya bagus ni film
pengen nonton....

Muhammad A Vip mengatakan...

film ilusi? wah, kayaknya begitu mas Tomo.

Muhammad A Vip mengatakan...

Nonton aja mbak. hihihi

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

bagus nih kayaknya filmnya ^^V