Selasa, 31 Agustus 2010

MUDIK: Silaturahim Atau?

Lebaran Iedul Fitri sebentar lagi, seperti biasa orang-orang sudah sibuk dengan bermacam rencana menyambut hari raya yang hadir setahun sekali itu. Bagi orang-orang kota yang umumnya datang dari masa lalu yang jauh di kampung, sudah tradisi mereka akan terlibat dalam aktifitas yang disebut dengan mudik. Berbondong-bondong biasanya manusia dari kota akan menyerbu ke desa dengan berbagai macam daya dan upaya dengan tujuan yang tentu saja beraneka rupa.

Mudik yang asal katanya adalah udik kalau menyimak Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satu pengertiannya adalah hulu sungai yang ada di atas. Ada banyak pengertian di sana, seperti kampung dan juga sikap lugu, tapi mengingat biasanya orang mudik harus menempuh perjalanan yang berat, pengertian yang saya sebut pertama terkesan sangat cocok. Bayangkanlah berenang atau mendayung perahu melawan arus sungai yang deras.

Uraian ini tidak bermaksud menjelaskan betapa beratnya menempuh perjalanan mudik itu. Sebab walau saya ini sejenis orang udik tapi untuk urusan mudik saya paling males. Kalaupun harus pulang lebaran, biasanya sehabis lebaran atau mencari saat yang tidak penuh oleh resiko. Dalam pikiran saya, apa sih yang mau dicapai dari bersusah-payah yang besar pengorbananya itu.

Kalau mendengar dari penuturan orang-orang, umumnya mereka beralasan silaturrahim. Ya, menjalin kasih sayang antar sesama itu pokok, tapi apa itu sesungguhnya silaturrahim.

Yang sangat mungkin untuk dijadikan alasan menurut saya adalah rindu masa lalu. Sering kita merasa masa lalu lebih menyenangkan dari sekarang, sehingga bayangan masa lalu selalu saja menggelayut di mata.

Atau masa lalu yang tidak menyenangkan pun bisa jadi motifasi. Banyak orang yang kini merasa berhasil hidup di kota dengan banyak uang merasa ingin membalas kepada masa lalunya yang dianggapnya penuh penderitaan. Dulu ketika di kampung tidak punya apa-apa dan merasa diremehkan oleh tetangga-tetangganya yang mampu, seakan kini harus ada pelunasan. Atau entahlah.

Yang jelas, sesuatu yang membingungkan adalah antusiasme yang berlebih ketika masih berada di kota itu tidak selalu diikuti hal yang sama ketika sudah sampai di tujuan sana. Banyak yang ketika sudah di kampungnya, hari-harinya hanya dihabiskan dengan berdiam di dalam rumah sampai kemudian berangkat lagi ke kota. Atau yang konon menjalin silaturrahim, sesampai di kampung malah saling tak akur. Gampangnya kesenangan hanya sesaat dan setelah itu kembali ke rutinitas masalah hidup.

Semoga kita bisa memanfaatkan pesta agung tahun ini dengan tidak sia-sia. Semoga kita mendapat manfaat yang tak berlimpah. Semoga pengalaman masa lalu menjadikan hidup kita ke depan lebih mulia. Amin.

20 komentar:

attayaya jadi anak smp mengatakan...

hmmmm aku ga mudik kemana2
karena keluarga ada disini semua

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met mudik aja. jgn lupa oleh2nya

Elvindinata mengatakan...

huhuy,,tak sabar menanti hari keberangkatan nih,,,cepet2 ketemu keluarga n kampung halaman,,heheh,,:)

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

aku gak mudik :((
abis pasti kereta penuh semua ga nahan kalo harus desak2an

eh iya ada award buat km save ya
http://riaadria.blogspot.com/2010/09/award-plus-plus-tag.html

Muhammad A Vip mengatakan...

Yang nggak mudik bagus, yang minta oleh-oleh bikin pusing, untung ada yang kasi award.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

pengen mudik tapi gak punya kampung halaman hiks

CORETAN HIDUPKU mengatakan...

Benar juga sih. Kadang memang mudik ini jadi ajang untuk pamer keberhasilan selama di perantauan. Paling tidak orang2 yang dulu sepertinya meremehkan, terbuka matanya akan keberhasilan yang diperoleh tersebut. Mudah2an kedepannya niat mudik itu memang benar2 utk silaturahmi.

takuya mengatakan...

yey, kalo mudik tapi pas sampe tujuan malah g akur sama orang di tempat yg jadi tujuan mudik, mnding g usah mudik kali ya..

smoga pr-pr ku cpet selese biar bisa ikut mudik ke kampung halaman mama =.= euwh

tomo mengatakan...

Ho oh kawand.
Mulai banyak yang mudik jika hampir dekat lebaran.
Sungkem ke orang tua dan sanak sodara masing2

catatan kecilku mengatakan...

Oalah... Mudik itu asal katanya dari Udik to..? Wkkkk...
Kok aku baru tahu ya...? :p

the others.... mengatakan...

Mudik memang membutuhkan 'pengorbanan' tapi apa yg akan kita dapatkan dari acara mudik itu sungguh sesuatu yg tak ternilai...
Hidup mudik...!

Pakde Sulas mengatakan...

pakde belum pernah menikmati nikmatnya mudik saat lebaran, karena dari kecil sampai tua begini saat lebaran selalu di surabaya, maklum orang tua dan mertua pakde saat hiduppun tinggal di surabaya, jadi kata orang surabaya " matek orip yo tetep nang suroboyo"

Goyang Karawang mengatakan...

semoga mudik tahun ini berlangsung lancar ya. terutama pemudik sepeda motor

Business & Finance mengatakan...

mudik kemana kang?

attayaya jadi anak smp mengatakan...

ya mau mudik
TT DJ ya
cepet pulang

Ferdinand mengatakan...

halah.. masa sih Mudik dari kata Udik Sob. haha.. aku baru tau tuh .... aku kira dari kata Muleh Mendadak wkwkw......

tapi aku gak mudik kayanya.....sobat mudik kmn?

Muhammad A Vip mengatakan...

Aku mudik ke mana ya?

om rame mengatakan...

saya kira makna mudik untuk saat ini sudah terbaLik Om, katanya untuk siLaturahim. tetapi sehari2 mereka tinggaL di kota dan bersosiaLisasi di tempat itu juga, (mungkin) Lebih baik siLaturahimnya domisiLinya duLu baru mudik. tetapi kembaLi Lg kepada masing2 asumsi peLakunya sih.

Muhammad A Vip mengatakan...

Om Rame: demikianlah, hidup sudah bolak-balik gak karuan. :D

om rame mengatakan...

sebenarnya sih hidup masih karuan Om, cuma manusianya yg enggak karuan sukan ngeboLak baLik. hehehe...
patut diwaspadai nih Om, (mungkin) tanda2 sdh makin deket kaLi yah.