Senin, 27 September 2010

Asongan Handphone

Fenomena handphone menurut saya sesuatu yang mencengangkan. Sungguh, sepuluh tahun yang lalu saya tak menyangka kalau barang yang dulu sekedar alat komunikasi itu kini telah hadir sebagai bagian hidup individu-individu. Dari kakek-nenek sampai kanak-kanak hidup tak lepas dari gadget satu itu. Dari pagi saat bangun tidur karena bunyi alarm-nya berkukuruyuk, lalu sholat diingatkan alarm adzan sampai tidur lagi dengan ditemani suara radio yang menyiarkan dialog masalah seksualitas, handphone-lah yang pegang peranan.


Saat pulang mudik kemarin, orang tua saya dan saudara-saudaranya yang sudah tua-tua masing-masing memegang barang ajaib itu. Mereka menggunakannya entah untuk hal apa saja, yang jelas mereka memilikinya.  Bermain SMS-kah orang-orang tua itu, jelas tidak. mereka mengaku tak bisa ber-SMS-an. Yang pasti tentu saja untuk bertelefonan dengan anak-anak mereka yang umumnya berada jauh di rantau.

Hal di atas sebenarnya tak terlalu mencengangkan buat saya karena saya sering bertelefonan dengan orang tua. Yang baru menurut saya dan tentu mencengangkan adalah ketika saya melihat ada pedagang asongan yang menjual handphone. Seperti pedagang minuman atau makanan, pengasong handphone ini pun berkeliling menawarkan barang dagangannya. Barang dagangan yang bukan baru alias sekenan itu beberapa buah ditenteng di tangan sisanya di dalam tas.

Seperti mainan saja yang harganya murah dan mungkin dibeli siapa saja, benda yang pernah jadi barang mewah itu kini pun demikian. Saya ingat dulu ketika pertama kali pegang handphone gemetar nggak karuan. Waktu itu saya memegaang handphone seorang teman yang konon harganya lima jutaan, yang waktu itu fungsinya cuma bisa buat nelpon sama SMS saja.

Kini handphone telah jadi barang murah yang dijajakan pedagang asongan. Harganya pun bisa sama dengan harga celana kolor. Atau bisa lebih murah dari menu makan siang supir bus antar kota. Bagi saya sungguh fenomena mencengangkan apalagi fungsinya yang terus bergeser tak sekedar alat komunikasi.

6 komentar:

gaelby mengatakan...

yuph, bahkan hp banyak dijual kiloan. ada jga kejadian beli 1 gratisnya 2 heheee..:))
Salam sobat :)

pakde sulas mengatakan...

saat poertama hape masuk indonesia pakdepun tidak menyangka jika teknologinya akan sepesat sekarang, bahkan pakde juga tidak menyangka bisa membelinya, maklum dulu hape termasuk barang mewah
sekarang anak pakde yang baru kelas 2 SDpun sudah memegang hape untu berkomunikasi

dongkrak antik mengatakan...

kunjung balik sob...iya ni kalo teringat HP dulu aku pertama punya hp ya Hp Jadul tiap akir bulan harus ngumpulin uang minimal 50rb buat beli pulsa..tapi sekarang kayak beli permen...dimana2 ada.murah lagi...Ok sop priksa ke dokter biar tau kena TBC ya....

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

hahaha iyah dulu itu HP barang mewah
tp sekarang udah kayak benda wajib punya :P

tomo mengatakan...

ponsel yang dahulunya mahal sekarang menjadi sangat murah kawand yo

cahyo mengatakan...

setuju gan, Hp sekarng ini kayak jadi kebutuhan dasar.