Senin, 08 November 2010

Membayangkan Jadi Pengungsi

Sebenarnya sudah lama bermacam bencana terjadi di negri kita. Tapi entah mengapa selalu kaget setiap kali datang bencana baru. Meski tak selalu baru dalam bentuknya. Dan tiga bencana yang kini sedang dalam penanganan: banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai dan gunung meletus di Jogjakarta terus membuat banyak pihak kelimpungan menghadapinya.


Dari tiga bencana baru itu kini telah menghadirkan kenyataan berlimpahnya pengungsi. Mereka dalam berbagai liputan berita tampak begitu memperihatinkan. Setelah kehilangan harta benda yang digulung bencana, mereka harus hidup di tempat penampungan yang tak nyaman. Tak bisa berbuat banyak dan kebutuhan hidup tak bisa dipenuhi sesuai harapan.

Saya sempat membayangkan menjadi mereka, para pengungsi. Hidup di tenda berdesakan, tidur di waktu malam kedinginan karena tempat tinggal tak ada dinding, makan ngantri dan dijatah, terganggu oleh ulah sesama yang tak kenal aturan dan tentu saja memikirkan harta benda yang entah bagaimana keadaannya serta masa depan yang gelap. Semua saya coba bayangkan dengan mereka-reka semampu imajinasi bekerja, memanfaatkan pengalaman berkemah dulu waktu jaman sekolah dan LK HMI yang jatah makannya sepiring nasi mentah dengan sayur tanpa rasa, tapi sungguh rasanya tak mungkin imajinasi saya sesuai kenyataan.

Bahkan sebagai relawan sekalipun, dengan terjun ke lapangan rasanya tak mungkin mampu merasakan apa yang dialami oleh pengungsi yang merasa kehilangan banyak hal itu. Terlalu jauh jaraknya rasa itu, seseorang pastinya harus mengalami sendiri untuk bisa merasakan sesuatu yang sama. Maka tak perlu berandai-andai apalagi banyak omong memang, membantu semampunya itu pasti yang terbaik.

22 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

MCK pun harus digunakan secara bergiliran... Harus mau antri.
Apa yang terjadi jika hasrat buang hajat tak dapat ditahan..? Sementara antrian masih sangat panjang..?

the others mengatakan...

Siapa yang sanggup mengelak akan keputusanNYA..? Jika saat itu tiba, kita pun bisa jadi salah satu diantara mereka...
Oleh sebab itu, kita yang saat ini sedang diberikan kemudahan, kelapangan dan kesehatan.. tak ada salahnya memberikan bantuan kepada mereka2 yang membutuhkan... sebagai wujud rasa syukur kita atas nikmat yang masih kita rasakan hingga saat ini.

Muhammad A Vip mengatakan...

Dua komentar dari dua nama tapi satu orangnya, ya Mbakyu tak ada yang mampu menolak ketika Dia Yang Maha Agung berkehendak.

Popi mengatakan...

saya sering juga membayangkan seadainya saya yang tertimpa bencana kayak gitu, langsung nangis bombay! apalagi kalo ampe beneran ya? wah moga-moga jangan sampai. Hanya Tuhan yang tahu.

Muhammad A Vip mengatakan...

Mbak Popi: nangis karena ngiris-iris bawang bombay ya mbak?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ya, pasti gak enak banget.

warcoff mengatakan...

intinya kena musibah itu gak ada yg enak...moga diiberi kesabaran bagi mereka..amin

kartunmania mengatakan...

betul bro... ber-empaty jauuuh lebih sulit dari pada bersimpati. Namun bersimpati jauh lebih baik daripada cuek bebek...
Kayaknya kita sepakat bahwa kita tahu apa yg seharusnya kita lakukan untuk mereka.

Salam kenal bro.... :)

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

semoga bencana-bencana ini dapat berakhhir T___T

headline news update mengatakan...

setuju sih mas, yang penting apa yang harus kita lakukan, tiada cobaan yang melebihi kemampuan
anugrah dan bencana adalah kehendak-Nya (kata om ebiet he he)

Tukang Gosip mengatakan...

biarpun nggak terbayang betapa mengerikannya tapi memang kita perlu membayangkannya. biar timbul rasa sosial, rasa syukur kita.

Muhammad A Vip mengatakan...

sang cerpenis:demikianlah

M A Vip mengatakan...

warcoff;semoga mereka tabah
kartun mania:salam kenal juga
Ria:semoga tidak-berlarut-larut
HNU: doa dalam hati juga nggak apa-apa
tukang gosip:mari kita bayangkan

pakde sulas mengatakan...

membayangkan jadi pengungsi? rasanya pakde tidak sanggup
beberapa waktu yang lalu ketika hujan dan angin didaerah pakde sehingga ada atap asbes milik tetangga yang terbang terbawa angin dan menimpa rumah pakde sehingga rumah pade bocor semua, pakde terpaksa menginap dirumah adik pakde walau hanya semalam rasanya sudah setahun
apalagi jadi pengungsi

Muhammad A Vip mengatakan...

Ya Pakde, setiap manusia memiliki kekuatan mental yang berbeda, jadi meski mengalamipun tak mungkin kita mampu membayangkan perasaan orang lain.

yadiebaroos mengatakan...

tul sob.....kita memang tidak akan pernah betul-betul merasakan susahnya jadi pengungsi, minimal kita tidak membuat mereka merasa kecil hati dan makin disusahkan oleh ulah kita

TUKANG CoLoNG mengatakan...

beruntunglah kita yg baik2 aja disini..:)

Vivieck mengatakan...

saya sih bukannya mau sob...
tapi menurut saya, jadi pengungsi juga asyik,
tambah pengalaman dan memberikan banyak pelajaran utk kita...
yah itu sih menurut saya sob...hehe

rian punya blog mengatakan...

betul bro... mereka semua butuh uluran tangan...

Goyang Karawang mengatakan...

semoga kita selalu bisa bersyukur dengan apa yg kita alami dan dapatkan ya sob

Muhammad A Vip mengatakan...

yadie:demikianlah
tukang colong:nggak juga rasanya
vivick:anda pengungsi ya?
rian:mari semampunya
goyang karawang:semoga

edda mengatakan...

siip betul banget itu
moga bencana ini cepet berakhir
amiiin