Senin, 02 Juni 2014

Undian Nomor Urut Capres

Tanggal 1 Juni 2014, setelah para capres dan cawapres makan siang entah di mana, mereka mendatangi kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum) di kawasan Menteng untuk mengundi nomor urut yang akan mereka pakai dalam kompetisi menuju posisi menjadi pemimpin negara. Mereka dielu-elukan pendukung masing-masing dengan semangat yang menggila. Bahkan saking menggilanya mereka, sampai orang gila yang biasa mondar-mandir di sana merasa kalah gila dan karena tak tampak  ada di sana sepertinya dia minder lalu menyingkir.  Dan saya hanya menonton dari televisi.


Ya, begitulah peristiwa yang dianggap penting itu berlangsung, yang beritanya disiarkan langsung beberapa stasiun televisi. Heboh luar biasa di luar dan di dalam Gedung KPU. Ada tokoh-tokoh penting bangsa, ada tokoh tak penting juga dan banyak juga yang bahkan kehadirannya tak sama sekali penting, yang ini jumlahnya sangat banyak. Mereka bernyanyi-nyanyi, bahkan ada yang teriak-teriak segala seperti calo terminal. Benar-benar tontonan yang menarik.

Tapi saya lebih tertarik dengan inti tontonan itu, yaitu pengundian nomor urut capres-cawapres peserta pemilu yang akan dipilih rakyat pada 9 Juli 2014 mendatang. Sudah ketahuan hasil pengundiannya karena sudah berlangsung, pasangan Prabowo-Hatta dapat nomor urut satu dan Jokowi-JK dapat nomor urut dua (tentu saja). Yang menarik bagi saya, kenapa musti diundi segala, pakai acara seremoni gegap-gempita pula yang pastinya makan biaya banyak. Bukankah akan lebih praktis andai nomor urut diberikan sesuai waktu pendaftaran para capres itu. Jokowi-JK mendaftar awal ya dapat nomor satu, apa pula masalahnya?

Undian, voting, adalah untung-untungan bahasa orang awamnya, dan bahasa agamanya judi. Saya yakin ini disadari banyak orang, tapi kita memang dalam banyak hal sudah terlanjur asyik dengan praktek judi ini. Tak aneh kalau kemudian para ulama tak pernah mempersoalkannya. Yang dianggap judi terus saja  taruhan uang di meja kasino atau main gaple, padahal judi pada pokoknya adalah sifat untung-untungannya.


Mungkin bagi mereka maksudnya biar suasana ramai dan meriah, namanya juga Pesta Demokrasi, biar jadi hiburan rakyat banyak makanya juga ditayangkan langsung stasiun televisi. Atau ini proyek orang KPU, dengan dana besar untuk mengadakan ramai-ramai itu maka akan banyak makanan enak di sana sehingga mereka bisa memuaskan nafsu kuliner. Ah, entahlah, saya cuma penonton yang bisanya cuma nyinyir mengomentari.

5 komentar:

Obat Sakit mengatakan...

prabowo nomor 1
sayang saingannya jokowi

Muhammad Affip mengatakan...

Saingannya nomornya lebih gede lagi, nomor dua haha

Ario Antoko mengatakan...

kalau ingin ga diundi, tapi berdasarkan yang pertama daftar

maka di UU sudah harus dibuatkan aturannya, kalau sekarang berdasarkan UU memang diundi

Putri mengatakan...

yang penting jangan salah pilih aja

duniaely mengatakan...

Aku ikut nonton dari kejauhan saja mas :)