Sabtu, 25 April 2015

Donat Nikmat Saat Buat

Sebagai penyuka donat, kira-kira dalam setengah tahun terakhir saya sedang benar-benar akrab dengan jenis makanan yang satu itu. Saya akrab dengan si donat bukan karena bekerja di Dunkin Donut atau warung donat lainnya, tapi saya sedang belajar bikin donat. Belajar bikin kue donat yang enak lebih tepatnya—enak dimakan dan enak dilihat. Entah sampai kapan keakraban saya dengan donat berakhir, semoga tidak dalam waktu dekat.


Meniru orang-orang cari resep lewat google, akhirnya saya beranikan diri bikin donat dengan modal nekat (mau dimakan sendiri ini). Sebenarnya semua berawal dari ketika melihat kakak sepupu yang membuat donat goreng untuk acara selamatan waktu orang tua kami meninggal akhir tahun lalu. Saya lihat cuma butuh waktu sebentar untuk bikin seratus bunderan donat dan bahannya pun sederhana. Maka saya pikir itu hal mudah, dan saya pun nekat buat.

Bahannya memang sederhana, terakhir bikin tiga hari lalu saya pakai terigu seperempat kilo, telor satu, gula pasir sesendok makan munjung, fermipan sesendok makan peres, margarin sesendok makan munjung, sesendok makan susu bubuk dan sedikit pengempuk roti. Proses dari menimbang bahan-bahan, mengadoni dan menguleni sampai kalis lalu mendiamkannya selama satu jam kemudian digoreng dan matang cuma butuh waktu tiga sampai empat jam (ba’da isya sampai jam sebelas), dan prosesnya juga menyenangkan. Tapi sejauh ini hasilnya belum memuaskan.

Untuk rasa, beberapa kali pembuatan belum ketemu yang sensasional. Kalau soal manis, saat memakan biasanya saya pakai gula tepung jadi saya kira rasa donat yang terlalu manis tidak tepat. Apalagi jika gulanya kebanyakan saat digoreng donat cepat gosong. Lembut saat dikunyah, mungkin ini yang saya masih pikir-pikir, soalnya ketika donat sudah menginap sehari biasanya donat berasa kasar di lidah. Sampai saat terakhir saya masih belum ketemu rasa yang bisa dibilang nikmat.

Tekstur kulit juga masih mengganggu. Melihat donat yang dijual di warung atau donat kelas dunia, biasanya kulitnya mulus dan tampak licin dengan warna coklat menarik. Sedangkan donat saya selalu kulitnya tidak rata (seperti roten) dan belum bisa ketemu warna coklat yang sreg di hati, kadang kuning terang dan lebih sering coklat gelap. Kulitnya bila diraba pun terasa kasar dan berminyak.

Tentu saja saya belum kapok bikin donat, karena walau saat menguleni adonan sampai berkeringat-keringat namun berasa nikmat. Menakar bahan, menyampur, mengaduk, menguleni bahkan sampai membanting-banting adonan benar-benar jadi aktifitas yang menyenangkan. Mencetaknya apalagi, membentuk adonan jadi bulatan lalu menjadikan tengahnya berlobang, saya kira di bagian ini yang bikin ketagihan. Tentu saja semua itu saya lakukan dengan cara seenak wudele dewek.

Penginnya sih, ada ahli donat yang bersedia mengajari saya dengan telaten dengan gratis. Soalnya saya sadar, manusia punya bawaan lahir berbeda-beda. Dan saya sepertinya bawaan lahirnya bukan tukang masak, jadi untuk bisa bikin makanan yang enak pastinya butuh waktu lama dalam belajar. Oh, adakah yang mau mengajari saya dengan sabar dan tekun membuat donat yang lezat dan nikmat?


6 komentar:

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

istri saya kebetulan dulu penjual donat tapi sekarang dah berhenti memang ada rahasianya bang untuk buat kulit donat jadi mulus begitu nanti saya tanya istri gimana caranya

Muhammad Affip mengatakan...

ditunggu kabarnya, pakde

TS Frima mengatakan...

Donat nikmat kalau dibagi gratisan :D

zach flazz mengatakan...

Mas Affip tanggung jawab kiyeh, enyong dadi ngelih kepengin donat

zach flazz mengatakan...

mas, kalo dunking dan sebagainya itu, suka nggak?

Muhammad Affip mengatakan...

zach: dunkin kalo dikasih suka tuh