Jumat, 24 April 2015

Prostitusi 2015

Siapa diantara anda yang follower @TemanJakarta? Saya belum, karena baru tahu akun itu tadi dari berita, yang ternyata akun seorang germo yang baru saja ditangkap polisi. Dan sudah pasti saya tak akan jadi follower-nya, karena takut ketahuan istri dan dituduh pelanggan, atau lebih repot lagi sampai diciduk polisi padahal cuma iseng nutul-nutul layar hape. Apalagi setelah mencuat kasus @tata_chuby dan bau badan, kini polisi sedang giat mengusut bisnis laris masa kini itu yang disebut-sebut dengan istilah Prostitusi Online.


Prostitusi online, apakah ini efek dari dihapusnya beberapa lokalisasi PSK (Penjaja Seks Komersial)? Ada yang bilang iya sehingga lokalisasi dianggap perlu, tapi menurut saya tidak. Karena yang dihapus itu lokalisasi ternama seperti Keramat Tunggak, Gang Dolly, sedangkan tempat-tempat mangkal PSK kecil-kecil atau yang tak bernama tetap saja eksis. Apalagi pelaku bisnis esek-esek online ini ternyata bukan jenis yang ada di lokalisasi. Dari beberapa fakta yang terungkap prostitusi online ini melibatkan pelajar, mahasiswa sampai model bahkan mungkin juga artis, dengan tarif bukan kelas lokalisasi.

Dari pengalaman pribadi mendengar—tanpa sengaja—perbincangan dua anak SMP (cowok cewek) soal kehidupan seks mereka beberapa tahun lalu saya jadi tahu bahwa adanya ABG yang menjajakkan seks bukanlah sekedar isyu. Bahkan di perkampungan dimana saya tinggal di daerah Jakarta Selatan yang kehidupan masyarakatnya tampak relijius pun pernah terungkap ada seorang ibu rumah tangga yang menjadi germo para ABG kampung itu. Prostitusi online ini lebih merupakah kelanjutan dari istilah Wanita Panggilan atau Call Girl yang pernah top di dekade sembilanpuluhan.

Juga mereka yang menjajakkan diri lewat online dan melayani pelanggan di tempat kos, pun beda dengan PSK yang mengundang konsumen dengan mangkal di pinggir rel kereta. Karena pasti pelanggan PSK model ini bukan kelas kuli atau supir truk yang badannya bau kecut (Rio yang guru prifat saja dimaki-maki cuma gara-gara belum mandi sore). Maka ide agar lokalisasi diadakan lagi dengan dalih agar prostitusi mudah dikontrol di era prostitusi masa kini tidak relevan.

Sekarang polisi sedang berupaya membongkar prostitusi online, Pemprov DKI pun melakukan tindakan-tindakan agar prostitusi tidak mewabah di sembarang tempat di Ibu Kota, kita tunggu sampai di mana gerakannya. Menurut saya, apalagi kondisinya sudah canggih seperti sekarang, memerangi prostitusi bisa jadi kerja siang malam yang melelahkan. Apalagi kalau yang dilakukan sekedar menangkapi pelakunya, dan pelakunya pun mereka para germo atau PSK-nya.


Saya lebih menganggap televisi sebagai sponsor besar prostitusi. Tayangan-tayangan yang setiap saat hadir ke rumah-rumah menawarkan kesenangan hidup dan wanita-wanita cantik adalah penyubur bisnis ini. Wanita menjajakkan seks tentu saja sudah ada sejak jaman batu, tapi mereka dikucilkan dan direndahkan pada masa itu. Kini ketika para bintang televisi berprilaku cabul ada di rumah kita dan dibiarkan saja, maka jangan salahkan orang tua yang bangga anaknya jadi bisyar. Kalau setiap orang tua sudah rela anak gadisnya yang masih sekolah menjadi PSK, mau dihapus dengan cara apa prostitusi?

10 komentar:

islam di dadaku mengatakan...

wanita fitnah dan godaan terbesar bagi pria

santika fadilah mengatakan...

Miris juga ya mas, bahkan aparat setempat malah mau melokalisasi tempatnya mas, apakah ini semacam izin gitu..? yang jelas polisi dan organisasi islam harus terus memberantas sekecil apapun bentuk zina

Immanuel Lubis mengatakan...

Bisyar itu apa?

Mangs Aduls mengatakan...

harus di kelurakan isikepalaya dulu di ganti dengan yang baru. baru perzinahan itu bakal hilang

Mangs Aduls mengatakan...

harus di kelurakan isikepalaya dulu di ganti dengan yang baru. baru perzinahan itu bakal hilang

Mangs Aduls mengatakan...

harus di kelurakan isikepalaya dulu di ganti dengan yang baru. baru perzinahan itu bakal hilang

Mangs Aduls mengatakan...

harus di kelurakan isikepalaya dulu di ganti dengan yang baru. baru perzinahan itu bakal hilang

Mangs Aduls mengatakan...

harus di kelurakan isikepalaya dulu di ganti dengan yang baru. baru perzinahan itu bakal hilang

Yudi Darmawan mengatakan...

negara kita juga memang gak tegas soal itu, bukannya saya malah membela negara murni sekuler, tapi bagi mereka politik ya politik agama ya agama jadi jelas perlakuannya, kita kan apa2 bawa agama di politik, mau naik jadi pejabat juga harus terlihat alim dulu, persoalan kaya gini gak bisa beres kalo pemerintahnya sendiri msh mencampurkan urusan ini itu ke dalam pemerintahan, kalo berani rancang hukum tegas ya prakteknya juga harus tegas, sekalipun pejabat kalo nanti ketangkap sama PSK ya dihukum..

Muhammad Affip mengatakan...

Santika: masalahnya zina sendiri gak cuma yang begituan sih bu, jadi kalo mengatasi yang begitu jelas mengganggu kehidupan masyarakat aja gak bisa bagaimana memberantas yang kecil-kecil
Noel: bispak: bisa dipake, kalo bisyar berati bisa dibayar haha
Mangs Aduls: apa gak cukup disuntik obat waras aja?
Yudi: memang, ada kemunafikan yang akut