Jumat, 10 April 2015

Gara-gara Emping Melinjo?

Sebelum panjang lebar, rasanya perlu saya katakan bahwa isi tulisan ini tidak bermaksud menuduh apalagi membuat fitnah. Saya menulis sekedar berbagi pengalaman hidup, karena kadang saya memikirkan tentang perlunya berbagi pengalaman; sering seseorang menganggap remeh suatu peristiwa padahal ada di antara kita yang mengaku mendapat hikmah dari hal-hal remeh. Jadi saya cuma mau cerita tentang sesuatu yang sedang saya alami tanpa ada keinginan mempengaruhi siapapun. Pun andai anda mengalami sesuatu yang sama dengan yang saya alami, yaitu karena makan emping melinjo lalu terserang asam urat, saya harap anda bersabar dalam berkesimpulan, setidaknya sampai anda selesai membaca  tulisan ini.


Ceritanya saya awali dari beberapa  waktu lalu ketika adik bungsu saya berkunjung dengan oleh-oleh emping melinjo (di desa tempat kelahiran saya di daerah Tegal barat selatan pohon melinjo tumbuh liar di pekarangan rumah penduduk, maka emping melinjo adalah makanan yang khas di sana). Saya yang semenjak meninggalkan kampung halaman jarang makan emping melinjo, apalagi sejak terserang asam urat sebelas tahun lalu, saya mencoba tak kenal lagi pada makanan gurih itu. Cuma karena oleh-oleh itu tiba-tiba ada rasa penasaran dan akhirnya kangen-kangenan. Namun ternyata, meski rasanya pahit (dan gurih), makanan ini bikin ketagihan. Sampai dari kangen-kangenan tadi kemudian terus-terusanlah saya berkriak kriuk kriak kriuk meski ada rasa khawatir. Dan akhirnya tiga hari lalu setelah tidur siang yang panjang pergelangaan tangan saya berasa sakit.

Saya tidak menuduh emping melinjo penyebab sakitnya pergelangan tangan saya tiga hari terakhir ini. Cuma sebelum sakit itu tiba, istri saya sudah mengingatkan agar berhenti memakannya. Sebab sudah jadi pengetahuan umum, kadar purin yang tinggi pada melinjo membuat dokter melarang pengidap asam urat tinggi mengonsumsi emping melinjo. Sebelas tahun lalu saat serangan asam urat atau gout pertama, dokter pun berpesan agar saya menjauhi emping dan jeroan. Dan sudah saya patuhi, tapi mungkin karena godaan syetan yang terkutuk, kemarin kepatuhan itu teringkari. Padahal konon menurut buku tentang asam urat yang pernah saya baca, serangan asam urat ke dua biasanya terjadi pada sebelas tahun setelah serangan yang pertama.

Sekali lagi saya katakan, dengan tulisan ini saya tidak menuduh. Walaupun mungkin saja emping melinjonya tak akan marah andai merasa dituduh, namun karena saya belum memeriksakan diri ke dokter jadi belum pasti yang sedang saya alami ini serangan asam urat. Saya hanya menduga karena yang sakit di persendian. Penyakit asam urat sesuai teori kan karena tingginya kadar asam urat dalam tubuh yang karena ada gangguan pada ginjal sehingga tak terbuang lewat urin maka mengendap di persendian.

Saya berharap ini bukan penyakit asam urat. Dan bukan pula karena emping melinjo. Ya Allah, sembuhkanlah sakit hamba-Mu ini…























  






























5 komentar:

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

emping melinjo enak bang saya biasa habis sepiring tidak terasa

Muhammad Affip mengatakan...

haha... bener, meski rada pait tapi keponakan saya yg umur tiga tahun juga doyan

Asep Haryono mengatakan...

Wawh wah bagi yang kena ASAM URAT sangat tidak dianjurkan makan Emping Melinjo. Hiehiehiheiheiheiehiehiehiee

nandar mengatakan...

Kalo kena asam urat jangan makan emping tapi coba deh makan buah sirsak.. katanya sirak bisa buat asam urat.

Muhammad Affip mengatakan...

nandar: mengkudu juga