Kamis, 30 Juli 2015

Kemarau dan Nyamuk

Saya sudah sejak kecil tahu bahwa musim kemarau itu dari bulan April sampai bulan September, dan saya yakin banyak orang yang tahu tentang musim kemarau itu. Maka bukan hal aneh kalau di bulan Juli sekarang tak ada hujan dan tanah kering kerontang. Justru aneh ketika banyak orang menganggap ada kemarau panjang lalu mengeluhkannya. Alhamdulillah di kampung saya tak ada orang mengeluh, para petani tetap saja melakukan rutinitasnya, memompa air tanah demi memenuhi kebutuhan air yang tak bisa ditolerir.


Tapi soal keluh mengeluh adalah hal biasa, tidak mengeluh soal air mengeluhnya soal nyamuk. Ya, di musim kemarau nyamuk benar-benar merajalela. Tidak siang tidak malam nyamuk terus mengamuk (seakan-akan) dan saya sendiri tak kuasa mengatasinya. Menurut orang pandai, banyaknya nyamuk di musim kemarau karena genangan air yang ada dan bisa jadi tempat berkembangbiak nyamuk tidak terganggu. Beda dengan musim hujan yang cendenrung mengalir. Udara panas juga—menurut orang pandai lagi—membuat siklus hidup nyamuk berubah, dari 12 hari yang dibutuhkan jentik untuk berubah jadi nyamuk di musim kemarau menjadi 9 hari.

Soal air mengalir saya kira benar, karena saya pernah tinggal di Jakarta tepatnya di daerah Jakarta Selatan, di tempat saya tinggal itu posisi tanah agak tinggi sehingga tak ada got menggenang, dan memang tak  ada nyamuk bahkan saya sampai dibuatnya kangen. Di tempat lain di Jakarta, malah ada daerah yang nyamuknya luar biasa bandel, obat anti nyamuk apapun tak memapan. Lotion anti nyamuk tidak berguna, obat nyamuk semprot tak mempan, obat nyamuk bakar cuma bikin sesak napas. Solusinya hanya berlindung di kamar yang tak bercelah.

Kini kamar tidur saya di kampung sebenarnya sudah lumayan rapat, namun sepertinya nyamuk-nyamuk sekarang begitu cerdas, kamar tetap saja tak pernah sepi dari nyamuk. Kamar sudah rapat, tempat tidur pakai kelambu, dibunuhi sudah selalu, tapi musim kemarau benar-benar telah membuat nyamuk-nyamuk itu sulit diatasi.

Sejauh ini gangguan yang saya alami masih sekitar gatal-gatal, suara berisik pengganggu tidur, dan sprei yang penuh noda darah. Walau begitu tetap saja melahkan, karena setiap hari dimanapun berada harus berurusan dengan mereka yang bisa saja mengakibatkan penyakit serius seperti dendam berdarah eh Demam Berdarah. Dan sepertinya masalah nyamuk kini sedang jadi masalah nasional.


Beberapa hari lalu Wakil Presiden menghimbau agar warga mengadakan sholat istisqo, sholat memohon hujan. Saya kira kalau alasannya kemarau panjang, jelas bukan karena kemarau masih dalam musimnya. Saya malah menduga Bapak Jusuf Kala sudah tak tahan diganggu nyamuk. Luar biasa nyamuk kemarau ini, pejabat tinggi saja diganggu, apalagi saya yang rakyat jelata?

2 komentar:

obat tradisional gagal jantung mengatakan...

Kalau dikampung saya mengeluhkan soal air, sudah mulai kekeringan.

monica kalalo mengatakan...

Info pariwisata indonesia Tempat Pariwisata Indoensia
Tujuan Pariwisata di Indonesia Wisata Kuliner wisata kuliner dan budaya di Indonesia
Berita Pariwisata di Indonesia