Minggu, 17 Maret 2019

MEMBACA TERROR BRENTON TARRANT


Brenton Tarrant. Nama ini saya yakin saat ini sedang dieja banyak orang di seantero jagat raya.  Saya beranggapan begitu karena saya juga sedang terus mengulang-ulang nama asing itu, tentu biar hafal dan lancar saat dibawa-bawa ngobrol tentang terroris. Peristiwa besar selalu mengundang banyak orang untuk berpendapat tentangnya. Banyak orang-orang besar mengutuk penembakan puluhan jamaah Sholat Jumat Masjid Al Noor dan Lindwood di Christchurch Selandia Baru itu, dan siapa saja akhirnya latah dengan gayanya masing-masing.  Selamat mengutuk.


Peristiwa semacam ini entah sejak kapan berlangsung. Orang atau seseorang mengekspresikan kebencian dengan melakukan kekerasan bahkan sampai membantai banyak manusia yang (bahkan) tak pernah dikenalnya. Pastinya ini cara lama, cara manusia purba yang hidup tanpa aturan bersama. Dan, anggaplah hidup kita kini lebih baik dari hidup di Zaman Purba karena punya hukum dan peraturan-peraturan yang dibuat bersama-sama untuk kepentingan bersama pula, tapi nyatanya sesuatu yang pernah ada di masa lampau itu tak hilang juga.


Mungkin soal semacam ini tak ada hubungannya dengan zaman (primitif atau modern), pun tak bersangkut paut dengan agama. Agama yang penuh petuah-petuah kebaikan pun nyatanya banyak dari pengnutnya yang jahat dan biadab.  Jadi sangat mungkin ketika manusia cara menjalani hidupnya makin tertata dan suatu saat seluruh manusia mengaku senang beragama, pada zaman yang seperti itu sesuatu yang brutal dan mengundang kutukan masih bisa terjadi.

Maka menengok ke sejarah, bagi saya yang muslim menganggap kisah turunnya Al Quran yang ketika pertama kali diwahyukan kepada Rosululloh SAW berupa perintah membaca benar-benar harus dianggap hal terpenting. Membaca adalah wajibnya wajib. Lewat membaca manusia jadi berpengetahuan dan berilmu. Karena berilmu manusia mungkin untuk beriman dan berbuat baik. Jadi tidak instan, tidak tiba-tiba manusia jadi beragama, baik dan mulia. Membaca, membaca, membaca akan membuat hidup manusia tak selebar layar smartphone miliknya atau sesempit wajah orang-orang yang disenanginya saja.

Selalu saja ada momen bagi kita untuk menjadi lebih baik. Begitu besarnya kasih-sanyang Tuhan kepada hambanya sehingga terus-menerus diberi petunjuk dengan beragam cara. Aksi terror terakhir di Selandia Baru itu bisa dijadikan siapapun yang ingin hidup lebih baik sebagai bahan bacaan. Ya bacaan, sesuatu yang harus dibaca bukan dieja huruf-hurufnya di kolom berita lalu dieja ulang keras-keras di depan orang lain. Peristiwa penting harus dibaca dengan serius, dibaca  karena Allah SWT yang telah menciptakan bacaan itu untuk kita.

Terimakasih sudah membaca tulisan saya.



Tidak ada komentar: