Senin, 12 April 2021

ROMADLON DAN BERMAAFAN

Romadlon lagi. Puasa lagi. Tidak makan di siang hari lagi dan makan sepuasnya di malam hari hihi. Sesuatu yang bisa dibilang khas di bulan spesial ini. Atau menahan lapar dan menumpuk makanan menjelang maghrib itu bukan yang khas di sekitaran bulan Romadlon, karena banyak juga ternyata yang tidak ikut dalam kelatahan itu. Ada orang-orang yang tetap saja santai tidak puasa— makan minum seperti biasa di siang hari dan banyak pula yang makan ala kadarnya saat berbuka puasa.

 

Bicara sesuatu yang khas pada bulan Romadlon dalam kesimpulan saya adalah bermaaf-maafan. Tradisi saling meminta maaf dan memberi maaf jelas sekali di depan mata kita karena diekspos sedemikian rupa dan bisa dikatakan semua orang mengucapan kata “maaf” dengan intonasi yang ditekankan saat berjabatan tangan pada sepanjang hari di penghujung bulan hingga  beberapa pekan kedepannya.

 

Bermaafan di akhir Romadlon atau saat lebaran Iedul Fitri bahkan sangat ditekankan dalam ceramah-ceramah karena sebagaimana sering disebutkan setelah sebulan berpuasa dosa-dosa dihapuskan dan manusia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan yang tentunya tidak sempurna kalau tidak meminta maaf atas khilaf ke sesama karena dikatakan pula dalam ceramah-ceramah bahwa dosa kepada sesama makhluk tidak akan dihapus tanpa ada saling memaafkan.

 

Bermaafan ini pun ternyata tidak hanya dilakukan oleh sesama orang beriman atau orang-orang Islam yang berpuasa, mereka yang bukan muslim pun di banyak tempat terlibat juga dengan berbagai macam cara dalam tradisi ini. Ada yang sekedar mengucapkan ungkapan-ungkapan yang lazim seperti Minal aidin wal faizin saat bertemu, ada yang berkunjung ke rumah bahkan ada yang ikut berkumpul dan masuk ke dalam masjid bersalam-salaman seusai sholat Iedul Fitri.

 

Walau tradisi ini telah berlangsung lama dan ada di mana-mana ada juga yang mengatakan bahwa meminta maaf atau saling bermaafan itu mestinya di awal Romadlon. Romadlon adalah bulan suci, maka siapa memasukinya harus dalam keadaan suci maka agar bersih jiwanya harus memaafkan dan dimaafkan lebih dulu. Maka kini di zaman internet di era medsos status berupa ucapan-ucapan maaf bertebaran yang pada kehidupan nyata berlangsungnya sebagaimana biasa ada di akhir Romadlon atau di Hari Raya Lebaran.

 


Yang gamblang dan mudah dikenali oleh semua kalangan memang bermaaf-maafan setelah Romadlon itu, tapi pada awal bulan andai cermat mengamati sebenarnya hidup juga tradisi itu dalam bentuknya yang unik. Di pedesaan pada umumnya—seperti di desa saya—ada tradisi memberi makanan yang dimasak pada tetangga atau saling berkirim makanan yang disebut dengan istilah unggahan atau unggah-unggahan. Macam-macam gayanya, ada yang makanannya dikirim ke musholla atau masjid kemudian dibagikan kepada jamaah seusai sholat—yang seperti ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum masuk Romadlon dengan cara digilir. Lalu ada yang dikirim langsung ke rumah-rumah sedangkan di musholla kami unggahan ini justru di hari pertama sholat tarawih, dimana kami para jamaah menjelang sholat isya mengirim paket makanan untuk di bagikan lagi seusai sholat.

 

Meski dalam peristiwa unggahan itu tak ada kata maaf terucap apalagi berjabatan tangan, sebenarnya jelas sekali maksudnya adalah ingin dimaklumi kesalahan-kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja yang artinya meminta maaf dengan perbuatan. Agama kan mengajarkan agar menutup kesalahan dengan kebaikan dan bentuk perbuatan baik itu adalah memberikan makanan enak, tidak sekedar tindakan verbal yang lebih sering klise.

 

Pada akhirmnya saya tidak akan latah mengumbar kata “maaf” namun semoga tulisan ini bisa jadi semacam makanan untuk unggah-unggahan. Selamat menempuh bulan suci Romadlon kepada semuanya, kepada yang beriman semoga puasanya sukses dan kepada yang tidak puasa semoga mendapat cipratan keberkahan dari mereka yang beriman. Marhaban ya Romadlon.

 

 

2 komentar:

Himawan Sant mengatakan...

Waaah .. udah lama nih aku ngga mampir ke blognya mas A Vip ini.
Apa kabar mas ?.

Selamat menjalankan ibadah puasa, ya.

Aku sependapat dengan pemikiran menutup kesalahan dengan kebaikan secara nyata, bukan hanya tindakan verbal di saat momen tertentu.

Muhammad A Vip mengatakan...

Himawan: terimakasih Mas, salam damai