Senin, 21 Maret 2011

Membunuh: Untuk Apa?

Informasi tentang pembunuhan di media massa rasanya setiap hari selalu tersaji untuk kita. Sudah berlangsung lama dan rasanya saya sendiri menikmatinya. Dulu saya takut melihat korban kecelakaan lalu lintas secara langsung, kini setelah terbiasa menyimak berita dengan gambar-gambar orang mati yang ada justru penasaran ingin melihat langsung. Maka ketika banyak saya temui sependuk di jalanan bertuliskan "Koruptor Harus Dihukum Mati", terbayang suatu saat saya menyaksikan ada orang digantung di depan mata saya dengan orang-orang yang menyaksikan tak lagi memiliki rasa ngeri. Tapi bukan itu masalah saya, yang saya sedang pikirkan adalah apakah pembunuhan-pembunuhan itu cukup beralasan.

Beberapa hari lalu saya menyaksikan seorang anak muda membunuh seorang supir taksi dengan begitu sadisnya. Hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah menjerat leher sopir taksi yang sudah tua. Karena sopir taksi itu melawan, tali yang telah menjerat leher itu diikatkan ke sandaran kepala dan tangan sopir taksi yang terus menekan klakson dipukul pakai besi batangan. Namun ternyata sopir taksi itu masih hidup dan mampu melepaskan sandaran kepalanya dari jok mobil, yang kemudian membuat pemuda itu dengan bertubi-tubi memukuli kepala sopir taksi itu dengan besi batangan sampai gigi palsu si sopir taksi lepas. Tidak sampai di situ, tapi saya tak akan menceritakannya karena kejadian selanjutnya begitu mengerikan. Dan kalau anda penasaran, ini adalah adegan dalam film A Short Film About Killing, sebuah film dari Polandia, silahkan anda mencarinya.

Dalam film ini kemudian si anak muda dihukum gantung setelah melewati pengadilan. Dari peristiwa-peristiwa yang saya saksikan ada sesuatu yang kemudian saya pikirkan hingga kini, untuk apa sesungguhnya orang membunuh. Pembunuhan yang ditampilkan dalam film yang dibuat pada tahun 1988 –sebagai bagian dari kampanye menolak hukuman mati-- baik pembunuhan yang dilakukan oleh individu atau negara ternyata tidak berbeda. Pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak muda kepada sopir taksi tidak jelas apa alasannya, juga yang dilakukan negara kemudian kalau tujuannya agar warga takut melakukan pembunuhan kenapa hukuman gantung dilakukan di tempat tertutup.

Rasanya film karya Krzysztof Kieslowski ini yang menampilkan betapa pembunuhan akan berakibat buruk, berbicara betapa manusia—entah individu atau lembaga-- dalam bertindak ternyata lebih didominasi oleh emosi daripada logikanya. Atau mudahnya, tindakan manusia dengan dalih kebaikan sekalipun sering tak benar-benar meyakinkan sebagai tindakan yang layak didukung. Tentu saja saya tidak menolak Negara menetapkan hukuman mati--sebagaimana saya tak kuasa menolak kematian, namun dengan tujuan apa hukuman mati itu ditetapkan, saya pikir itu yang penting untuk benar-benar didiskusikan.

18 komentar:

lidya mengatakan...

seram kalau memikirkan bunuh membunuh

IbuDini mengatakan...

Untuk melihat dan mendengarkan berita di televisi saja sudah menyeramkan bagaimana jika benar2 terjadi di depan mata..tak terbayangkan.

Muhammad A Vip mengatakan...

Lidya:serem bu ya? kalo begitu lihat langsung aja...hehe
IbuDini:kalo tidak biasa bisa trauma bu, bertahun-tahun gak ilang bayangannya. semoga di tempat ibu aman aman saja.

Kepada yang lain maaf blogwalking-nya ditunda, koneksi payah.

rezkaocta mengatakan...

hiiihhh...,seremm!!!
ngebaca ilustrasi nya aja serem bgt gitu, apalagi kalo liat korbannya scara langsung...
*pingsan*

i-one mengatakan...

seram banget.tapi postingannya bagus loh.salam kenal,klu ada waktu kunjungi blog ane ya

Gaphe mengatakan...

walaupun hukumannya kematian, kalo Tuhan nggak menghendaki mati saat itu ya nggak bakalan mati itu terhukum..

lagian mungkin dianggap hukaman mati itu yang paling efektif

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah serem ih filmnya

Aina mengatakan...

hmmm, pembunuhan... seperti nyawa udah gak ada lagi harganya...sepertinya ia menganggap dirinya lebih dari Tuhan yang berhak mengambil nyawa begitu saja...

Muhammad A Vip mengatakan...

rezka:pingannya udah?
i one:salam kenal juga, tunggu kedatanganku aja
gaphe:bener bro, kalo belum waktunya biar ditembak juga gak bakalan mati, bedilnya rusak misalnya.
fany:emang
aina:sekarang yang berharga uang kan?

Obat Sakit 2011 mengatakan...

Apalah gunanya membunuh orang yang memang bukan haknya untuk mengakhiri kehidupan di dunia ini.
Sangat mengenaskan kejadian demi kejadian masih tetap saja ada bunuh membunuh.

joe mengatakan...

barangkali memang hukuman mati bisa memberi efek jera tapi yang jelas ebberapa negara sudah menghapus hukuman mati

Popi mengatakan...

kirain beneran situ lihat pembunuhan supir taksi secara live!! taunya dari film! btw..nonton dimana? Pusat kebudayaan Polan?

sarah azahra mengatakan...

Sepertinya trailer movie nya.

Jiox mengatakan...

relatif juga mas, kalo yang dibunuh koruptor atau penjahat saya kira perlu .. ya daripada mereka 'membunuh' banyak orang lagi di hari kemudian, tujuannya: ?
agar keseimbangan alam semesta bisa terjaga hehe

Anisayu mengatakan...

Wah bener2 ngeri kalo soal pembunuhan, mrinding,,,,

CORETAN HIDUP mengatakan...

Mengerikan sekali. Membaca adegan si pemuda memukuli si sopir dengan batangan besi, saya tidak sampai hati. Apakah sudah hilang rasa kemanusian tersebut hingga sampai pada tahap ingin membunuh seseorang. Rasanya tidak sanggup jika harus menyaksikan hal tsb secara langsung

Muhammad A Vip mengatakan...

obat sakit:begitulah pak
joe:saya secara pribadi setuju saja, asal tidak demi hukum
Popi:bukan, di freedom institute
jiox:ya, mereka yang mengacau ketentraman dan bikin resah layak dihukum mati
ifan:saya menontonnya juga tahan nafas

r10 mengatakan...

hukuman mati sudah ada dari jaman dahulu, bahkan rasul pun menerapkan hukuman mati

jadi kalau tdk mau terkena hukuman mati, jangan melakukan kejahatan fatal, seperti membunuh orang lain