Senin, 07 Maret 2011

Pakdeblong

Ini cerita tentang seorang tetangga yang di lingkungan saya biasa dipanggil Pakde. Pakde ini singkatan dari Bapak Gede yang maksudnya bapak-bapak yang perutnya gede. Bukan ding, bapak gede itu kira-kira kakaknya bapak saya, begitulah. Jadi kalau orang yang umurnya lebih tua dari bapak saya, sudah kebiasaan akan dipanggil Pakde alias Bapak Gede, tak perduli dia orangnya kuntet.

Sejak pertama kali kenal Pakde ini saya merasa tidak nyaman ketika berbicara dengannya. Banyak omong orangnya dan  yang lebih menjengkelkan adalah omongannya gak ada yang mutu alias gak perlu. Seperti sudah tahu orang mau berangkat kerja dia tanya mau ke mana. Sudah dijawab kerja terus lagi bertanya kerja atau mau jalan-jalan, kalau bercanda bisa jadi menyenangkan, tapi ini serius. 

Pada awal-awal kenal Pakde  istri saya biasa-biasa saja, sesuatu yang membuat saya kemudian bersikap wajar juga pada Pakde ini. Tapi belakangan istri saya mulai menunjukkan sikap sebal yang tak tertahankan sepertinya. Sampai-sampai setiap kali disapa tidak menjawab dan menghindari perjumpaan. Saya pun sering menggoda istri saya dengan bersikap sama seperti Pakde dengan banyak bertanya dengan gayanya. Maksud saya biar istri saya terbiasa dan tidak menunjukkan sikap berlebihan pada Pakde, karena tidak enak kalau nanti banyak tetangga tahu.

Tapi peristiwa ini menjadi bukti untuk yang kesekian kali kalau perasaan saya memang peka. Saya sering ketika jumpa orang pertama kali merasa enggan hanya karena melihat raut wajahnya dan ternyata dibuktikan kemudian kalau orang tersebut memang biang masalah. Pakde ini menurut istriku kelakuannya menyebalkan: sering kencing sembarangan yang bikin lingkungan jadi pesing, suka bertanya-tanya apa saja yang tak penting, suka buka-buka pintu rumah orang seenaknya yang akhirnya bikin pusing, untungnya nggak miara anjing.

Sejak sikap menyebalkan Pakde ini kian jelas dan sepertinya sudah sulit di maklumi, istri saya memanggilnya sudah tidak lagi Pakde tapi jadi Pakdeblong. Tidak penting apa maknanya, yang jelas orang kalau sudah ada predikat jelek akan dengan sendirinya ditandai dengan berbagai macam cara. Dan kini giliran saya berusaha menenangkan istri agar tidak berlebihan bersikap. Yang namanya orang, ada saja yang menyebalkan sikapnya, bahkan mungkin diri kita pun menyebalkan di mata orang lain. Jadi saya anggap ini cara Tuhan menyuruh hambanya yang dicintai ini agar mawas diri.

22 komentar:

Rawins mengatakan...

pakde blog ki maksudnya pakde dablongan yow..?

Muhammad A Vip mengatakan...

hehehe

Coretan Hidup mengatakan...

Susah juga menghadapi orang yang tidak mengerti situasi dan kondisi kita.Jadinya, kita merasa ilfil dan terancam dengan kehadirannya. Ya, paling kita hanya bisa bersabar dan terus mawas diri supaya nggak terlalu sewot dgn kehadirannya

Muhammad A Vip mengatakan...

ifan:yes bro

AA mengatakan...

Assalamualaikum pak Avip.

Hemh....
hemh....

Awalnya saya baca harusnya bs dimaklumi..
tp lekas lonjak kaget ketika baca"suka pipis sembarangan"

Nah lho?

Manusia Biasa YangBenar-benar Biasa dan Sangat Biasa mengatakan...

Pakdeblong?
Kyknya serng denger julukan macam ini...

Saya rasa, sebaiknya ngomong sama orgnya deh pak. Kalau mungkin gak sama orgnya sama istrinya. Drpd didiemin terus malah bikin kita jadi ngrusak hati kita sendiri. gak baik bagi jiwa...

^^

TUKANG CoLoNG mengatakan...

gini dah namanya rukun tetangga. :D

rezkaocta mengatakan...

it juga termasuk panggilan sayang kali ya
hehe

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

waduh jorok amat ya

IbuDini mengatakan...

Wahh kalau gini ceritanya sama juga bisa gak tahan..itulah Dia, menciptakan manusia dgn bermacam sifat dan tinggkah laku tinggal kita saja ingin memilih yg seperti apa.

Muhammad A Vip mengatakan...

AA:waalaikumsalam..hahaha
Manusia biasa:gak brani, biarlah...biasanya orang tua sulit dirubah tabiatnya
tukang colong:ya beginilah
rezka:demikianlah
Fany:hihihi

Muhammad A Vip mengatakan...

ibu dini:namanya manusia bu

Popi mengatakan...

mungkin karena usianya sudah sepuh..jadi suka agak 'mundur' kelakuannya! maklum orangtua suka pengen cari perhatian!

Muhammad A Vip mengatakan...

Popi:sepertinya begitu

☺☺☺ mengatakan...

maklum aja pak, kalo makin tua tingkah malah jadi kembali kaya anak-anak (katanya sih begitu) :D

Anisayu mengatakan...

Saya ga punya Pakde....karena orang tua saya 22nya sulung hehehe
Nice info...

Gaphe mengatakan...

lah koq malah ngerasanin orang sih.. ntar kalo pakdeblong nanya gimana??

eh, bukannya pakdeblong tuh sama kacak pating celemot yah??.. *jawanya keluar

Lidya mengatakan...

Piss ah, suamiku dikantor dipanggil pakde nih,tapi beda loh bukan pakde yg disini hehehe

attayaya_komodo mengatakan...

cobaan dari Allah bermacam2, pakdheblong mungkin cobaan bagi siapa saja yg merasa sebal kepadanya

Muhammad A Vip mengatakan...

noto:kiranya begitu
anisayu:pakde ini juga pakde nemu tua
Gaphe:iya nih, ngomongin orang...ampun...
Lidya:pakde apa panjangannya?
Attayaya:tentu sobat

alka mengatakan...

blong, remnya dijual yo mas xixixi, untung dah belum pernah nemu species seperti itu :D

Muhammad A Vip mengatakan...

alkatro:hahaha