Selasa, 01 Juli 2014

Ketika Sinetron Kita Berdakwah

Seorang guru ngaji, cewek, tinggal bareng dengan kakaknya yang miara tuyul. Pada suatu hari guru ngaji itu duduk bersilah di dipan menghadap kitab suci Al Quran yang tebal dan terbuka. Guru ngaji itu melantunkan surat dengan lagu yang aneh, lalu di akhiri dengan kata amin. Bersama bacaan itu si tuyul kepanasan. Ternyata yang dibaca Al Fatihah.


Adegan tadi ada dalam sinetron religi, sudah lama sekali, entah apa judulnya. Dan kini pada bulan Romadlon sinetron religi marak lagi. Ciri sinetron jenis ini tentu saja gampang dikenali, yaitu banyak disebut istilah-istilah yang—konon— jadi penanda keimanan, seperti: subehanallah, masyaallah, astaghfirullah, dan masih banyak yang ada kata Allah-nya. Ada adegan sholat di masjid, dan orang mengaji.

Sudah pasti sinetron jenis ini mudah di klaim sebagai sinetron dakwah. Sebagaimana ada yang disebut film dakwah pasti ada sinetron dakwah. Sah-sah saja disebut demikian, apalagi sekilas cerita-cerita yang disajikan sangat berkesan Islami dan mengajak pada kebaikan. Ada juga ustadnya di sana yang bertugas ceramah terus-menerus setiap kali dapat giliran nongol.


Cuma ada yang mengganggu dari segala upaya menampilkan warna keislaman di sana. Yaitu seperti pada cerita pembuka, bagaimana mungkin seorang guru ngaji sekedar membaca Al Fatihah saja harus membuka Al Quran dan yang memprihatinkan bacaannya kacau. Dalam sebuah diskusi film ada seseorang yang peduli dengan sinetron, mengatakan bahwa sinetron religi dalam pembuatannya mestinya menyertakan seorang ahli sebagai pengontrol mutu. Dan memang, selama ini yang tampak asal sudah pakai kerudung dianggap sudah memenuhi ketentuan agama.

Dan adegan orang mengaji kembali saya saksikan semalam di sinetron yang dibintangi Dewi Sandra dan Asyraf Sinclair. Saya tak hafal judulnya cuma saya amat-amati banyak penontonnya.  Termasuk istri saya tentu saja. Apalagi sinetron ini bercerita tentang istri yang dikhianati suaminya berselingkuh, sudah pasti ibu-ibu tak ingin ketinggalan episode.


Seperti yang saya saksikan semalam di sinetron tersebut, Baim Wong diceritakan menjadi imam sholat, ditampilkan dia membaca beberapa surat Al Quran, yang kemudian diprotes istri saya karena banyak salahnya (alif dan ‘ain dibaca sama semua dengan lafad ‘ain). Padahal dalam adegan itu istri Baim Wong (ceritanya) berkata kagum dalam hati betapa suaminya fasih membaca surat-surat itu. Saya senyum saja, bukan karena maklum tapi senang karena ternyata tak cuma saya yang merasakan ada kekonyolan-kekonyolan semacam itu, karena pada hari sebelumnya Dewi Sandra yang ceritanya ustadzah di sinetron itu ketika membaca bagian akhir surat Al Baqoroh yang setiap hari lazim dibaca saat wirid seusai sholat fardlu pun salah.

Ada yang juga tak kalah payah. Di sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang bombastis itu, Rumanah yang katanya kuliah di Al Azhar Kairo Mesir ternyata pun ketika dalam adegan yang tak jauh beda sangat berkesan sekali kalau membaca dari sebuah teks. Panjang pendeknya bacaan tidak nggenah. Saya pikir ini sesuatu yang keterlaluan, bagaimana mereka para pembuat sinetron meremehkan sesuatu yang sangat prinsip, Al Quran kalau dibaca tak sesuai harokatnya artinya sudah pasti berubah.

Tak ada lembaga keislaman yang protes sejauh pengetahuan saya. Tapi saya maklum, sebab peristiwa semacam itu memang sudah lazim, dalam banyak kesempatan sholat sering saya dapati imam sholat bacaannya asal-asalan. Yang bikin saya bingung kenapa mereka sangat percaya diri: sinetron menampilkan orang yang tak fasih berperan jadi ustadzah, lalu orang yang bahkan baca al Fatihah saja tak bisa berani jadi imam sholat.

Ya, sinetron... sampai kapan kau dakwahi kami yang sudah sesat ini?



5 komentar:

fb mengatakan...

Ya sinetron kita seperti itu tidak mendetail atau memperhatikan hal-hal seperti itu.. Perhatiannya hanya kepada cerita ala sinetronnya saja. Sinetron dakwah harusnya juga punay penasehat dari kalangan ulama yang bisa turut serta membuat sinetron menjadi benar-ebanr menjadi sinetron dakwah

Tuberculous Meningitis mengatakan...

Kalau berpikir positif, produsernya memang ingin berdakwah melalui Sinetron, tetapi sayangnya mereka tidak tahu perilaku islami yang benar bagaimana. Kalau berpikir negatif, mereka hanya mengejar keuntungan dari pasar warga muslim di Indonesia, yang penting kesannya mendidik.

Muhammad Affip mengatakan...

kita mesti berpikir yang baik-baik tentu saja, masalahnya ketika mereka terus-terusan menghadirkan hal-hal yang tak bagus maka ketika kita tetap berpikir yang bagus jangan2 karena kita merasa bagian dari ketidak bagusan itu, ada rasa sungkan mengkritik

Seputar Dunia Ponsel dan HP mengatakan...

buenci aku mas dengan sinetron Catatan Seorang istri yang diperankan Dewi Sandra itu

Obat Sakit mengatakan...

Tapi mending lihat sinetron daripada YKS