Selasa, 15 Juli 2014

Yang Baru Sekolah Baru

Tadi pagi saya sempat melihat anak kecil berangkat sekolah dengan atribut OSPEK, dan saya pun tersadarkan ternyata tahun ajaran baru sudah mulai. Karena tak punya anak dan sudah tidak sekolah lagi, saya benar-benar tak tahu kapan sekolah libur dan kapan masuk kembali. Setelah melihat anak sekolah pakai topi kerucut dari karton dan kalungan papan tulis bertuliskan macam-macam saya baru ngeh, ternyata musim libur sekolah telah usai dan ruang kelas telah dibuka lagi bagi siswa-siswi baru.


Tahun ajaran baru, siswa baru dan pasti banyak yang sedang mencicipi sekolah baru. Anak sekolah yang saya sebutkan tadi berangkat sekolah pakai atribut lucu-lucu, jadi sudah pasti dia siswa yang sedang mencicipi dunia barunya. Saya lihat dia masih pakai seragam esde, jadi pasti dia siswa kelas satu esempe. Karena setahu saya kini anak baru saat perkenalan masih diharuskan memakai seragam sekolah lamanya.

Dan bicara soal jadi siswa baru saya pun mengingat-ingat jaman sekolah dulu. Pada jaman saya jadi siswa baru tak ada yang namanya OSPEK atau plonco-ploncoan. Saat awal masuk esempe yang ada penataran P4 selama seminggu, dan sudah pakai seragam baru: putih biru. Seluruh siswa ditampung di satu kelas yang besar, duduk tanpa meja kita mendengarkan segala macam ceramah dari guru-guru dan cerita dari senior. Aktifitas melulu di dalam kelas, tak ada push up, apalagi sampai ditinju dan ditendang oleh senior sampai mati, pokoknya sepekan yang menyenangkan.

Yang masih jelas teringat saat bersiap-siap jadi siswa baru di esempe, waktu itu saya merancang bagaimana caranya berkenalan dengan teman-teman baru. Caranya seperti pada umumnya, setiap kali berdekatan dengan seseorang saya langsung sodorkan tangan dan mengajak berkenalan. Saya menyebut nama di awal tentu saja, saat itu dalam bayangan saya akan mudah dan menyenangkan, tapi nyatanya banyak yang bengong saat saya ulurkan tangan dan menyebut nama.

Tak ingat berapa kali saya memperkenalkan diri dengan cara begitu, sepertinya bisa dihitung dengan jari, karena kemudian situasinya seakan tidak menuntut prilaku formal semacam itu. Tanpa bersalaman atau berkenalan tiba-tiba saja orang yang baru tampak raut mukanya bisa memanggil-manggil dengan akrabnya. Saya masih ingat beberapa anak memanggil saya dengan nama yang salah, nama saya Affip dan mereka ada yang memanggil dengan Hasim dan lain-lain.

Saya ceritakan masa esempe di sini karena masa itu yang saya anggap paling menyenangkan. Masa selanjutnya hidup sudah penuh beban dan mengalir begitu saja tanpa rancangan bagaimana harus menyapa atau bagaimana cara berkenalan. Juga waktu masuk esempe saya benar-benar sendiri, tak seorangpun teman lama ada di sana. Beda dengan ketika masuk esema yang ternyata banyak teman lama dan saat kuliah pun ada seorang teman lama juga.

Masihi, Sugeng, Darmo, Wahyono, Asikin, Sus Ernawati, ah...rasanya baru kemarin dorong-dorongan di halaman sekolah yang seluas lapangan sepakbola itu, padahal pasti kalau kini kita ketemu mungkin sudah sulit saling mengenali.


Sebagai penutup, buat para pembaca kalau ada yang kenal nama-nama itu tolong sampaikan salam pada mereka dari saya. Sekian saja dan terimakasih.

5 komentar:

Nandar mengatakan...

puasa-puasa di ospek nih kasihan juga ya

Mas Huda mengatakan...

Beuh saya udah lupa masa esempe saya....

Wisata Murah mengatakan...

hehe. memang sangat menyenangka mengingat masa lalu ya gan, nanti klo ketemu aku salamin dechm :D

Muhammad Affip mengatakan...

Nandar: ya, ospek mestinya sudah dibuang dari dunia sekolah kita
Mas Huda: dasar pelupa, hahaha
Wisata: tergantung masa lalunya sih

reni judhanto mengatakan...

Sekarang sih utk urusan MOS atau OSPEK... murid2 senior itu sangat kreatif membuat aturan dan acara yang aneh2... Semoga saja tak ada lagi kisah MOS atau OSPEK yang memakan korban jiwa.