Sabtu, 19 Juli 2014

Zakat Fitrah dan Saya

Puasa tinggal sepekan, orang-orang sudah sibuk menyambut lebaran. Macam-macam cara orang menyongsong hadirnya hari raya satu ini, salah satunya menjadi panitia zakat. Terutama di masjid-masjid dan musholla-musholla, di sana pasti sudah terbentang spanduk bertuliskan: Kami Siap Menerima dan Menyalurkan Zakat, Infak dan Sodakoh Anda. Saya yang tak pernah jadi panitia zakat, tidak tahu pasti sejak kapan tradisi semacam ini hidup di masyarakat kita.


Seingat saya, dulu waktu kecil di kampung  tak ada tradisi amil zakat musiman di musholla atau masjid. Kalaupun ada di sekolah madrasah (saya kira ini bagian dari pendidikan), biasanya pada malam lebaran sekolah menampung zakat siswanya. Jadi dulu kalau lebaran saat saya masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI), pada malam takbiran bersama teman-teman datang ke sekolah membawa beras setor zakat fitrah. Berjalan kaki hampir satu kilometer ke sekolah setelah buka puasa terakhir sambil menikmati kemeriahan malam takbiran, benar-benar masa lalu yang rasanya ingin diulang. Sedangkan para orang tua zakat fitrahnya pada tetangga dekat di kanan kiri rumah, seperti pada para janda, anak-anak yatim atau yang hidupnya serba kekurangan.

Setelah lulus MI saya zakat firah pada dukun bayi yang mengurus kelahiran saya dulu yang rumahnya di belakang rumah. Karena tempat SMP dan SMA saya jauh dari rumah dan sekolah tak menampung zakat fitrah setahu saya. Sampai kemudian hidup di Jakarta dan panitia zakat ada di mana-mana, saya tetap ber-zakat fitrah dengan cara lama, memberikan langsung pada yang saya anggap berhak pada malam takbiran, karena tidak sulit menemukan mereka.

Sebenarnya saya sudah sering mendengar bahwa zakat fitrah bisa dibayarkan sepanjang bulan Romadlon sampai menjelang sholat ied. Juga konon zakat kalau ditampung di kepanitiaan penyalurannya bisa lebih tepat sasaran. Ikhtiar yang baik tentu saja, apalagi bagi masyarakat yang hidup di perumahan mewah, pasti sulit menemukan tetangga yang miskin, maka pasti panitia pengumpul zakat fitrah jadi membantu, karena merekalah kemudian yang menyalurkannya.

Saya yang tidak tinggal di perumahan mewah tentu saja mudah bertemu dengan para fakir miskin, jadi saya pikir dengan memberikan langsung bisa lebih tepat sasaran. Tak hanya tepat sasaran, yang lebih penting tentu saja jalinan kekerabatan di masyarakat, yang saya yakin inilah tujuan adanya zakat. Kalau di kepanitiaan, sepengetahuan saya justru banyak kekurangannya, seperti cara distribusi yang menghinakan orang miskin, karena yang saya tahu masjid menyebar kupon dan warga yang dapat kupon zakat akan mengantri mengambil jatah (sudah miskin jadi tontonan pula). Padahal mestinya panitia mendatangi rumah-rumah para mustahik sebagaimana dulu sekolah MI saya setelah menampung zakat fitrah pada bada isya langsung dengan kendaraan becak mendatangi rumah-rumah mustahik.

Saya tidak anti pada masjid yang mengumpulkan zakat, saya justru ingin masjid jadi lembaga zakat resmi yang ditetapkan oleh negara. Tak musiman seperti pada masa menjelang lebaran, tapi sepanjang tahun menjadi pengelola zakat warga sekitarnya. Karena dengan pengelolaan yang bisa dikatakan swadaya di masjid atau musholla, pasti akan lebih efektif bagi ummat. Sedangkan untuk zakat fitrah, justru di sinilah kesempatan tiap individu berinteraksi dengan hangat, terutama antara yang kaya dan yang miskin, jadi mestinya dihimbau agar zakat fitrah langsung tiap individu memberi pada yang berhak, sekalian bermaaf-maafan menjelang sholat Iedul Fitri.


Selamat berpuasa di sepuluh hari terakhir.

7 komentar:

Wisata Murah mengatakan...

wah sudah ancang ancang bagi zakat fitrah ya... alhamdulillah ya gan

Ainur Rofiq mengatakan...

Dengan di kasihkan sendiri zakat kita jadi lebih tepat sasaran siapa yang berhak membutuhkan. Tapi kendalanya kadang orang sekarang tidak mau ribet, jd tinggal di serahkan saja kepada panitia zakat pasti beres. Jadi saya rasa semua sama saja intinya yang penting ikhlas dan berniat zakat fitrah.

Dunia Ely mengatakan...

Sepakat dengan keinginannya mas :)

Munawir Alfikri mengatakan...

Kalo saya belumm nih zaakat fitrah nya hehe

Ario Antoko mengatakan...

bagusnya dikasih langsung sendiri atau juga panitia amil yang kasih langsung ke mustahik

jangan via kupon nanti terjadi antrian, saling rebut rusuh

ilham efendi mengatakan...

jadi inget harus zakat fitrah haha
nicepost gan
salam kenal

Riri mengatakan...

berkunjung, minal aidin walfaidin mohon maaf lahir batin, jangan lupa kunbalnya ya ^_^