Selasa, 30 September 2014

Menulis Sampai Menangis

“Menulis itu seperti naik sepeda. Awalnya jatuh bangun, tapi kalau sudah mahir biar kepala ditutupi sarung tetap saja bisa ngebut” Begitu ungkapan yang pernah saya baca dan tetap teringat sejak zaman SMP sekian puluh tahun lampau di Majalah Pelajar MOP (majalah yang satu kelompok dengan harian Suara Merdeka ini sepertinya sudah lama almarhum). Dari berlangganan majalah MOP ini saya mengenal dunia tulis menulis, ingin jadi penulis, dan merasakan sulitnya memindahkan isi pikiran ke tulisan (kalau memindahkan isi perasaan ke tulisan jelas lebih mudah, buktinya banyak remaja kasmaran yang rajin nulis puisi).


Bertahun-tahun setelah waktu pertama kali saya menulis dan mengirimkannya ke majalah MOP, kini saya belum bisa ngebut juga padahal kepala tak ditutupi sarung. Apakah ini merupakan bukti bahwa menulis itu sulit? Mungkin kalau sekedar menulis, tidak ada kata sulit, karena setiap orang yang pernah sekolah pasti pernah menulis, entah menulis karena diperintah atau atas kemauan sendiri. Namun menganggap  mudah pun faktanya banyak orang-orang sekolahan yang selalu gagal menuliskan isi pikirannya.

Tentu saja ada banyak alasan kenapa seseorang yang ingin menulis banyak yang merasa tidak mampu atau terperangkap pada kata “sulit”. Dulu saya pernah beralasan karena tak punya mesin ketik maka saya tak bisa mewujudkan “mimpi besar” saya menjadi penulis cerita terkenal di waktu muda, tapi ternyata ketika punya alat tulis yang lebih canggih pun tak juga bisa produktif. Bahkan menulis di blog yang tak perlu memenuhi aturan main yang ketat, bahkan boleh menulis dengan bahasa yang kacau dengan kemungkinan ada jutaan orang yang membacanya, saya tak mampu untuk sekedar posting seminggu sekali.

Dan beberapa waktu lalu saya sempat membaca bahwa untuk berkembang pada suatu bidang pekerjaan (pekerjaan adalah hal yang bisa atau mungkin untuk dilakukan) seseorang harus terlibat dalam komunitas. Membacanya membuat saya sadar bahwa selama ini saya sudah tersesat karena lebih asyik hidup sendiri. Saya sudah sombong karena merasa berbakat, sehingga mengabaikan kenyataan bahwa sesungguhnya saya butuh banyak orang untuk menjaga gairah dan meningkatkan kemampuan diri.

Ada pepatah Itali mengatakan: Orang yang bermain sendiri tak akan pernah kalah. Ya, tapi juga tak pernah bisa menang. Tak ada kemenangan apapun dalam dunia tulis-menulis bagi saya, semua masih berlangsung di angan-angan. Kenginan nulis di blog setiap hari cuma ada di angan-angan, apalagi jadi penulis buku ilmiah populer yang best seller, tentunya...ah


Kini rasanya yang lebih pantas dilakukan adalah menangis. Menangisi dosa kesombongan. Lalu tentu saja bertobat, dengan berkomunitas, mencari teman sebanyak mungkin yang ingin jadi penulis dan berbagi. Uhuk uhuk uhuk

4 komentar:

#walidin.net mengatakan...

saya harus nya belajar dari blog ini untuk lebih paham dan lancar bagimana menulis yang bagus, bagi saya menulis masih merupakan sesuatu yang sulit, baik kerangka, tema, ataupun menyusun paragraf antar paragraf.
terima kasih infonya sob

TS Frima (Rian) mengatakan...

Udah ketemu belum komunitasnya mas? Hehe

Muhammad Affip mengatakan...

walidin:terimakasih kunjungannya
Rian: ada komunitas, tapi ternyata sulit berkomunitas

Muhammad Affip mengatakan...

walidin:terimakasih kunjungannya
Rian: ada komunitas, tapi ternyata sulit berkomunitas