Minggu, 03 Mei 2015

Mengenang Rengginang

Saya kira hampir seluruh penghuni bumi ini sudah tak asing dengan jenis makanan ringan yang digoreng kering semacam kerupuk atau keripik. Mungkin di belahan bumi tertentu minyak goreng merupakan barang langka, tapi saya yakin keripik kentang kemasan merek terkenal dari Amerika sudah dikonsumsi di pelosok-pelosok oleh yang belum mengenal minyak goreng sekalipun. Makanan semacam ini entah manusia dari benua mana yang pertama kali membuatnya, yang pasti di Indonesia—khususnya di Jawa—kerupuk maupun keripik ada berpuluh bahkan mungkin beribu-ribu jenisnya.


Kerupuk atau keripik ada yang khas daerah tertentu dan tak mungkin ditemui di tempat lain, namun banyak juga yang hampir di setiap tempat ada walau beda nama. Ada yang setiap saat tersedia, asal pergi ke warung pasti menemui, seperti kerupuk dari tepung aci. Ada yang familiar tapi tak semua warung menjualnya, semacam keripik singkong. Dan ada juga yang tak di sembarang warung atau toko menjualnya, yaitu rengginang.

Tentang rengginang, saya tidak tahu ini jenis makanan dari mana, walau saya yakin mayoritas penduduk pulau Jawa mengenalnya. Namanya pun saya menduga sama di banyak tempat di seantero Jawa, begitu pula cara membuatnya. Makanan berjenis kerupuk yang terbuat dari ketan ini saya menduga dulu makanan orang-orang tertentu atau kaum bangsawan.

Makanan mudah di temui atau tidak tentu tergantung dari jenis bahan bakunya. Semakin murah bahan untuk membuatnya sudah pasti banyak pula penikmatnya. Dan rengginang sulit ditemui karena dibuat dari ketan yang walaupun mudah didapat tapi harganya bisa dibilang mahal. Padahal rengginang makanan yang bentuknya sederhana dan proses membuatnya gampang.

Saya ingat dulu ibu saya sering bikin rengginang dan saya bisa ikut-ikutan membuat. Bahannya yang berupa ketan yang dikukus dan diberi bumbu rempah-rempah cukup dibentuk bulat lalu digelar melebar dengan ukuran tertentu di penampan atau tampah. Ketan kukus yang saat dibentuk kondisinya masih basah akan dijemur beberapa hari sampai bener-bener kering. Ketika kering sebagaimana umumnya kerupuk, rengginang akan disimpan dalam kondisi mentah dan menggorengnya saat diinginkan. Rengginang bukan makanan untuk lauk, jadi tak setiap hari orang menggorengnya.


Sudah bertahun-tahun saya jarang makan rengginang. Melihat orang bikin rengginang apalagi, entah masih ada tetangga yang membuatnya atau tidak saat ini. Terakhir saya memakannya, adalah oleh-oleh dari seorang teman yang pulang dari Jogya beberapa bulan lalu. Dan saya memotretnya untuk dibagi pada anda.

10 komentar:

Lilis mengatakan...

Rengginang enak nih.. Di kampung saya di Ciamis masih banyak rengginang ini.

Mang Koko mengatakan...

emangnya rengginang sudah wafat ya pak, kok kaya mengenang Olga ajah?
#aneh

eh tak polow dong boleh blognya sangat ya pak

Mangs Aduls mengatakan...

kalao di sayah masih ada aja kang yang berjualan ranginan. makanan sepangjang masa kayanya kang.

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

saya lihatnya di televisi saja penasaran pingin rasakan renyahnya rengginang ini kalau nggak salah ini banyak di jawa barat ya?

Obat Kolesterol Tinggi mengatakan...

Artikel ini memberikan wawasan terbaru buat saya, wacana pembahasan ini sangat bermanfaat. terimakasih :)

Yudi Darmawan mengatakan...

paling enak itu rengginang dicocol saus cabe, enak banget saya pernah nyoba, mass pernah coba yang dicocol saus juga gak?

Muhammad Affip mengatakan...

sudah saya duga semua kenal rengginang. dan dari komen mas Abdullah sepertinya asalnya dari Jawa Barat. cuma soal rengginang dicocol cabe baru tau tuh, yang saya tau rengginang dikasih gula merah

Yudi Darmawan mengatakan...

makanya sekali2 ke sumatera, disini apa2 urusan harus ada cabe bung..! haha.. lebay..

Muhammad Affip mengatakan...

Yudi: pantesan orangnya galak-galak haha

handdriati mengatakan...

Rengginang gurih enak...saya suka hihi...
Di daerah saya masih banyak yang jual dan bikin mas...