Rabu, 11 Juni 2014

Bagaimana Jerman Mengenal Sepakbola

Dua hari lagi FIFA WORLD CUP BRASIL 2014 dibuka, maka satu bulan ke depan di seluruh dunia akan musim sepakbola. Indonesia sudah pasti heboh, meski tak mengirim timnas, kita merupakan salah satu bangsa  penggila sepakbola di dunia. Di sini biasanya akan banyak acara nonton sepakbola bareng. Bahkan tak cuma nonton pertandingan, Arthouse Cinema yang merupakan program nonton film gratis di Goethe Institute pun pada bulan Juni ini memutar film-film tentang sepakbola. Seperti pada 10 Juni, diputar film bagus berjudul Der ganz grosse Traum (Lessons of A Dream).


Film tentang sejarah masuknya sepakbola ke Jerman pada abad ke-19 ini bagi saya oke banget. Apalagi sekarang di Indonesia, di musim pemilihan presiden, sedang berlangsung peristiwa yang saya kira mirip kasusnya. Yaitu tentang kebaruan yang ditolak dengan berbagai macam cara oleh mereka yang sedang asyik dengan kemapanan. 

Diceritakan pada tahun 1874, seorang guru baru yang mengajar bahasa Inggris mengalami kesulitan menghadapi murid-murid yang telah terdidik dengan suatu pola yang ketat. Tak cuma berhadapan dengan murid, Konrad Koch—nama guru muda itu—pun harus berhadapan dengan guru-guru dan sistem yang ada. Tapi guru yang teman tidurnya adalah sebuah bola itu, saat terus dihadapkan pada kesulitan menaklukkan siswanya di dalam kelas, tetap tegar sampai kemudian memanfaatkan kemampuannya bermain sepakbola untuk mengajar bahasa Inggris.

Hasilnya murid-muridnya mulai menyukainya, bahkan kekakuan-kekakuan yang ada akibat sistem model kemiliteran di sekolah itu mulai diabaikan oleh anak-anak yang sedang nakal-nakalnya. Tapi hal baru sudah lazim akan ditentang oleh mereka para kaum kolot. Koch hampir saja pergi dari sekolah itu saat murid-muridnya telah menyukainya, tapi sepakbola yang telah digemari murid-muridnya itu menyelamatkannya dari kekalahan berhadapan dengan masa lalu.

Latar film ini adalah saat masyarakat Jerman belum mengenal sepakbola yang asalnya konon dari Inggris. Tak disangka, Jerman yang kini merupakan raksasa sepakbola dunia ternyata belum genap 150 tahun mengenal olahraga ini. Saya kira pada masa itu di Indonesia olahraga mengolah benda bundar bernama bola sudah bukan hal asing, walau dalam bentuk permainan yang berbeda. Tapi rasanya gak penting membanding-bandingkan Indonesia dengan Jerman atau bahkan dengan Arab Saudi, yang penting sudah bisa makan kenyang lalu menyaksikan pertandingan atau nonton film, hidup sudah enak dan damai.

10 komentar:

Nandar mengatakan...

Jerman sekarang merupakan salah satu raksasa sepakbola. Indonesia bis amengambil pelajaran dari ini.

Muhammad Affip mengatakan...

nandar: masalahnya kita nggak pernah mau belajar, penginnya pacaran melulu haha

Dary SEO mengatakan...

bener gan indonesia gamau kalo belajar -_-

Obat Sakit mengatakan...

wah besok sudah dimulai ya bolanya

Seputar Dunia Ponsel dan HP mengatakan...

siap siap lembur untuk menonton
tapi bikin pagi harinya mengantuk saja

Muhammad Affip mengatakan...

Dary: haha...gak semua tapi
Tomo: gak perlu lembor, pertandingan ada yg main jam 5 pagi, abis sholat subuh sambil senam nontonnya

pakde sulas mengatakan...

pakde setuju, makan yang kenyang dulu baru nonton sepak bola biar tidak ketinggalan he he he

Ario Antoko mengatakan...

ga penting siapa yg pertama mengenal sepak bola, yang penting juara dunia

kikils mengatakan...

kelihatannya seru, apa filmnya akan diputar di Indonesia juga?

Wahyu Eka Prasetiyarini mengatakan...

pemain bola jerman memang keren-keren ya, top semua. Tapi saya sih suka nya sama spanyol hehehe :D