Sabtu, 28 Juni 2014

Marhaban Lagi, Puasa Lagi

Dulu, di jaman saya kanak-kanak, pada hari menjelang puasa begini biasanya ada kebiasaan menunggu-nunggu bunyi bedug di masjid pada pagi sekitar jam sepuluhan. Kalau ada bunyi bedug berarti besok dipastikan sudah mulai berpuasa, yang kemudian orang-orang pada mandi keramas. Semacam ritual menyambut bulan yang suci. Kemudian tentu saja langgar-langgar atau musholla pada siap-siap menyelenggarakan sholat taraweh hari pertama. Biasanya halaman langgar dibersihkan karena jamaah pasti membludak, lalu dipasang sepeker atau pengeras suara (dulu yang pakai sepeker hanya masjid jamie).


Dulu menyambut bulan puasa senangnya luar biasa. Ada perasaan menunggu-nunggu kedatangannya. Pada saat itu sekolah libur, banyak orang berjualan aneka rupa makanan pada malam hari yang pada hari biasa sulit ditemui. Banyak petasan, dari petasan cengis (cabe rawit) sampai mercon long (petasan sebesar kaleng biskuit) yang bikin semarak. Pada malam hari yang biasanya di kampung sepi, pada bulan puasa pada dini haripun suasananya hidup.

Pada masa itu, televisi belum seperti sekarang. Jadi kami anak-anak lebih banyak aktif di luar rumah, maka pada malam hari yang hidup, anak-anak benar-benar meramaikan suasana yang luar biasa menyenangkan. Biasanya saya selesai buka puasa sudah langsung melesat ke langgar, yang biasanya menjelang isya sudah ramai dan terang benderang. Seusai sholat taraweh biasanya tetap ngumpul di halaman langgar makan kerupuk atau kue apa saja yang dibagikan buat anak-anak, sampai saat orang tua bertadarus. Saat orang tua tadarusan, anak-anak ramai bermain apa saja. Ada yang main gobak sodor di jalanan yang juga terang karena banyak penjual makanan, ada yang main petasan dan macam-macam.

Capek bermain, kembali ke langgar. Orang tua tadarusan biasanya selesai jam sebelas, pada saat itu gantian anak-anak meramaikan langgar sampai dini hari. Pada jam satu biasanya dengan berbagai macam alat tetabuhan, kami anak-anak ikut mereka yang sudah dewasa berkeliling kampung sampai jam tiga membangunkan orang, pengalaman yang tak terlupakan apalagi pada jaman itu di desa saya listrik belum merata.

Selesai keliling membangunkan sahur langsung pulang ke rumah sahur bersama keluarga, lalu balik lagi ke langgar menunggu subuh. Yang seru biasanya saat suara sirine tanda imsak berbunyi, anak-anak biasanya langsung lari ke rumah masing-masing untuk sekedar minum air segelas. Selepas sholat berjamaah biasanya mendengarkan kuliah Subuh, dan sesudahnya jalan-jalan pagi lalu pulang dan tidur sampai menjelang Dluhur.

Sorenya nunggu Maghrib keliling-keliling pakai sepeda. Dan menjelang Maghrib nongkrong di dekat masjid nunggu bunyi sirine, sampai kemudiaan ketika berbunyi kita lari adu kencang ke rumah masing-masing. Sesuatu yang saya tak lagi temui di dunia anak-anak sekarang. Sekarang televisi ada di tiap rumah, puasa hanya diisi dengan tiduraan di depan layar kaca itu menunggu adzan Maghrib. Lingkungan sudah terang benderang, tapi justru sepi pada malam hari.

Jaman memang berubaah. Justru bikin ngenes, tidak bertambah menyenangkan malah mencemaskan dan membingungkan. Yang membingungkan apalaagi kalau bukan soal penetapan awal puasa itu, dulu rasanya penetapaan awal puasa dan lebaran mudah-mudah saja, kini rasanya serba sulit padahal kemajuan tekhnologi mestinya mempermudah keadaan: beberapa tahun terakhir, bahkan ketika orang-orang sudah kumpul di masjid untuk taraweh pemerintah masih sidang yang ternyata puasa diundur sampai hari berikutnya, begitupun penetapan lebaran.

Saya bersyukur punya pengalaman yang saya anggap luar biasa sebagai muslim berkaitan dengan puasa. Apa yang saya ceritakan tentu saja bagian dari yang luar biasa itu, semoga puasa tahun ini tetap berkesan dan tetap menggembirakan. Dan kepada saudaraku yang berpuasa juga, saya ucapkan selamat berbahagia. Semoga puasa tahun ini jadi kenangan indah di hari nanti. Di akhirat bisa jadi.

Selamat datang Romadlon. Selamat berpuasa.




4 komentar:

Catatan Cerita Digital mengatakan...

Marhaban Yaa Ramadhan. ALhamdulillaaah :)

Selamat berpuasa juga sob. Nice sharing with you ^.^

Salam kenal. Saling berkunjung ya.

Claude C Kenni mengatakan...

Selamat menunaikan ibadah puasa, kawan =)

pakde sulas mengatakan...

bagi manusia yang beriman kedatangan ramadhan selalu dirindukan, karena ramadhan adalah bulan bonus nikmat dari Alloh

Muhammad Affip mengatakan...

Catatan: Selamat berpuasa juga
Claude: terimakasih kawan
Pakde:kita ini orang beriman ya pakde