Jumat, 17 April 2015

Jaman Batu (Akik)

“Kamu mau beli batu akik enggak? Murah, cuma lima ribu.” Begitu penawaran seorang anak SD kelas lima pada kawannya  beberapa hari lalu di halaman sekolahnya. Saya yang ada di dekat mereka sempat kaget campur geli menyaksikan peristiwa itu. Anak-anak yang tinggi badannya baru semeter lebih itu benar-benar telah mempertontonkan adegan yang sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya. Batu akik yang kini sedang jadi tema berita nasional ternyata tak cuma menjadi urusan orang dewasa, bahkan anak-anak pun  terkena wabahnya.


Saya kaget dengan fenomena batu akik yang menyedot perhatian hampir seluruh manuisa Indonesia itu karena seumur hidup saya belum pernah mengalami hal semacam ini. Cincin batu akik tentu saja saya sudah tahu sejak kanak-kanak, melihat orang pakai cincin-cincin dengan benjolan-benjolan besar berderet di jari-jari tangan pun sering, tapi ketemu anak-anak muda memakai, membicarakan dan berkumpul di tempat pemolesan batu-batu unik itu yang kini ada di mana-mana jelas baru sekarang. Apalagi dari anak-anak sampai nenek-nenek terlibat dalam bisnis ini, masih tak habis pikir saya dibuatnya.

Kira-kira satu tahun silam saat ada seseorang buka lapak batu akik di sekitar perkampungan di mana saya tinggal di kawasan Jakarta Selatan, saya waktu itu menganggapnya sekedar tindakan iseng orang tua yang sedang cari kesibukan karena tak punya kerjaan. Saat itu lapak batu akik belum menjamur seperti saat ini. Ternyata dalam hal ini saya termasuk orang yang tak mampu membaca gejala alam. Dan ketika kini lapak batu akik telah meraambah dari pusat kota sampai pelosok desa, saya tidak berani memprediksi akan sampai kapan jaman batu akik ini akan berlangsung.

Jaman batu akik telah berlangsung setahun lebih, hampir setiap hari kini saya melewati lapak batu akik, melihat saudara pada pakai batu akik, laman facebook saya sering dikirimi foto batu akik, tapi entah kenapa sampai sekarang saya belum juga tertarik ikut-ikutan terlibat dalam dunia baru itu. Entah mengapa, saya  tak tertarik sama sekali dengan batu akik? Sehingga ketika beberapa jam lalu membaca peserta peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung akan diberi cindramata batu akik, saya membayangkan ikut jadi peserta dan dapat batu akik itu dan menjadi bingung, harus diapakan batu akik itu karena jari saya biasanya gatel-gatel kalau pakai cincin.

Batu akik, batu akik.







3 komentar:

Abdullah Al Pinrany mengatakan...

yang jelas mudah-mudahan suadara kita dijauhkan dari ujub, riya dan mubazzir karena deman batu akik ini,

Mangs Aduls mengatakan...

jangankan anak SD anak saya yang baru paud udah ngomong2 batu akik coba. katanya gini yang bagusnih yang tembus pah.....
kapan saya ngajarin cona. aduhhhhh

Muhammad Affip mengatakan...

Abdullah: ya, kemungkinan ke situ memang besar
Mangs Aduls: gak usah diajari anak sekarang bisa belajar sendiri toh dari tipi?