Selasa, 05 Mei 2015

Bulan Purnama dan Dongeng Masa Kecil

Dua tiga hari ini bulan tampak bulat bundar di langit. Meski selalu mendung dan bulat bundarnya lebih sering tersembunyi, tapi tengah malam kemarin saya saksikan wajah cerahnya memancar tepat di atas saya berdiri di halaman rumah. Rasanya kembali ke masa kanak-kanak lagi, ketika dulu belum ada listrik biasanya saat purnama begini kami menggelar tikar di halaman rumah, rebahan memandangi rembulan sambil bercerita.



foto wajah bulan purnama kemarin malam
Macam-macam cerita yang saya pernah dengar tentang bulan ini, hampir semuanya tak masuk akal, tapi selalu mengundang tanya ketika mencoba ingin menyangkal. Dan biasanya seperti itu, pengetahuan yang kita dapat lebih awal ketika kemudian dinegasi oleh pengetahuan baru selalu ada kesulitan untuk benar-benar menyingkirkan yang lama. Maka saya bisa maklum ketika ada seorang ustadz yang tak mau kalah berdebat dengan anak esempe yang menurutnya matahari mengelilingi bumi bukan bumi yang mengelilingi matahari.

Salah satu cerita yang selalu teringat saat memandangi bulan purnama adalah dongeng nenek-nenek penjual minyak di bulan. Sejak pertama kali mendengar dongeng ini hingga sekarang selalu saya mencoba melihat dengan detil guratan-guratan yang tampak di permukaan bulan yang bundar kuning pucat itu. Di sana ada warna kecoklatan seperti lukisan abstrak yang konon itu gambar seorang nenek memegang canting minyak. Menurut dongeng itu jika minyaknya tumpah akan menjadi hujan. Sejak dulu saya tak pernah percaya cerita itu dan tak pernah bener-benar melihat ada gambar nenek-nenek di sana. Tapi tetap saja cerita itu selalu teringat saat melihat purnama dan ada dorongan melihat lebih sungguh-sungguh warna kecoklatan yang pastinya itu karena permukaan bulan yang tak rata.

Tadi sebelum menulis posting ini saya keluar rumah ingin melihat bulan lagi, tapi mendung tebal menutupinya, semoga tengah malam nanti wajah bulan purnama bersih seperti kemarin. Ya, beginilah gaya orang yang telah bertahun-tahun tak pernah sempat menikmati purnama. Di Jakata tentu saja bulan purnama ada, tapi suasananya yang cenderung ramai dan penuh lampu di waktu malam, membuat purnama tidak bisa dinikmati bahkan terlupakan. Jadi mumpung ada kesempatan, mari nikmati gaya nenek penjual minyak di bulan itu.



2 komentar:

Mang Koko mengatakan...

keredupan cahaya bulan kala purnama yang mencorong menempa permukaan bumi sejak dulu memang membuat banyak bermunculan dongeng pengantar tidur para anak-anak hingga menjelang pagi...bulan...oh bulan...ku

Geto Katanya mengatakan...

Kamarnya Mas ada jendelanya yah? Di deketnya ada meja?