Kamis, 11 Oktober 2018

Likuifaksi O Likuifaksi


Belakangan berita gempa bumi terus muncul, dari Lombok, Palu dan kini Situbondo. Jelas bikin prihatin, tapi dari rentetan bencana itu ada sesuatu yang sangat menarik dan semestinya jadi renungan kita bersama.  Sesuatu itu adalah apa yang disebut dengan Likuifaksi yang menyertai gempa Palu-Donggala. Entah sudah berapa sering fenomena alam satu ini terjadi di bumi Indonesia, bagi saya pribadi ini yang pertama. Pertama saya mengetahui peristiwanya dan istilahnya. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya ada kejadian semacam itu.



gambar: asal comot

Tanah yang padat di musim kemarau tiba-tiba menjadi cair, bergerak memindahkan yang ada di permukaannya bahkan menenggelamkannya ke bumi.  Ada ladang jagung menggantikan perumahan dan jalan raya, lalu sebuah desa berpindah sampai lebih dari dua kilometer. Ribuan rumah diperkirakan amblas ke dalam tanah dan entah berapa ribu nyawa yang ikut serta. Di mana sajakah kengerian seperti ini bisa terjadi di bumi ini? Mungkinkah tanah yang kini kita tempati –yang selama ini aman-aman saja— terkena likuifaksi ini?

Di daerah tempat tinggal saya bisa dibilang daerah aman bencana. Menurut hitung-hitungan Tsunami tak mungkin menimpa desa saya karena jauh dari pantai (apalagi pantainya Laut Jawa). Sepanjang hidup saya, mengalami gempa bumi pun bisa dihitung jari, itu pun gempa kecil yang tidak semua orang merasakannya saat terjadi.  Dan jauh pula dari gunung apalagi gunung berapi. Jadi selama ini saya dan tetangga-tetangga lebih sering jadi penonton dan komentator bencana-bencana.

Namun setelah mengetahui apa yang baru saja terjadi di Sulawesi, saya jadi membayangkan peristiwa itu menimpa kami suatu hari nanti. Di beberapa tempat di sini saya ketahui ada tanah yang labil, yang sering bergerak dan mengubah struktur bangunan di atasnya. Misalnya ada jalan raya yang tanahnya selalu amblas sehingga aspalnya jarang mulus. Bahkan ketika  sudah dibeton, pernah tanahnya longsor sehingga lempengan betonnya mengambang karena tanahnya amblas. Akhirnya betonnya dihancurkan untuk diganti yang baru. Cerita yang sering saya dengar, di bawah jalan itu ada penunggunya: seekor ular naga, ketika jalan retak-retak berarti si penunggu sedang menggeliat, begitulah warga memaknainya.

Apapun bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Siapa menyangka akan ada lumpur menyembur dari dalam bumi yang sampai menenggelamkan rumah-rumah warga Sidoarjo? Palu yang konon sudah sering diterjang Tsunami, untuk kejadian terakhir di zaman tekhnologi canggih, siapa pula yang sudah memprediksi hal itu akan terulang. Mengingat banyak bangunan—candi dan sejenisnya—ditemukan terpendam di dalam bumi negeri ini, harus diakui di negeri ini bencana alam besar sering terjadi.

Para ahli akhir-akhir ini banyak bicara soal mitigasi. Kalau saya hanya bisa bilang, siap-siaplah karena bisa jadi sang bencana sedang menghampiri. Laahaula walaaquwata illa billah

3 komentar:

Nathalia DP mengatakan...

Semoga kita semua selalu dilindungi Allah...

Muhammad Affip mengatakan...

Nathalia: amiin

Nadia K. Putri mengatakan...

Laa hawla walaa quwwata. Mungkin Tuhan mau tes seberapa tahan banting kita percaya sama Dia :')